Google

Friday, November 3, 2017

IDEOLOGI KEBANGSAAN DALAM SINERGITAS KEKUATAN NKRI




Seminar sehari
Karakter, Kader Bangsa
Ideologi Kebangsaan dalam Sinergitas Kekuatan
Djoko aw*)

PENGANTAR
Fenomena sosial yang berkembang akhir-akhir ini memerlukan tingkat kewaspadaan tinggi dari seluruh masyarakat Indonesia. Kondisi ini mendorong setiap komponen bangsa untuk kembali merenungkan secara mendalam tentang hakikat dan dasar‑dasar fundamental kehidupan bangsa ini. Kita kembali mempertanyakan tentang  pola pikir, sikap, dan nilai‑nilai serta pandangan hidup yang kita anut. Bangsa ini membutuhkan pembentukan karakter dan watak, yaitu :
Pertama, karakter bangsa yang bermoral (religius) Bangsa ini harus sarat dengan nilai‑nilai moral dan etika keagamaan sebagai sebuah pandangan dan praktek.
Kedua, karakter bangsa yang beradab. Baradab dalam arti luas menjadi suatu bangsa yang memiliki karakter berbudaya dan berperikemanusiaan.
Ketiga, karakter bangsa yang bersatu. Didalamnya termasuk menegakkan toleransi. Tidak mungkin kita bersatu tanpa adanya toleransi, harmonis dan bersaudara.
Keempat, karakter bangsa yang berdaya Dalam arti yang luas, berdaya berarti menjadi bangsa yang berpengetahuan (knowledgeble), terampil (skillful), berdaya saing (competitive) secara mental, pemikiran maupun teknis. Daya bukan sekedar dalam arti materi dan mekanik, melainkan dalam makna secara mental, hati dan pikiran kita; yakni state of mind.
Kelima, karakter bangsa yang berpartisipasi. Partisipasi amat diperlukan untuk menghapus sikap masa bodoh, mau enaknya saja, dan tidak pernah peduli dengan nasib bangsa. Karakter partisipasi ini ditandai dengan penuh peduli, rasa dan sikap tangggungjawab yang tinggi, serta komitmen yang tumbuh menjadi karakter dan watak bangsa kita.
Kemudian modal apa yang harus menjawab persoalan ini, adalah pengukuhan terhadap cita-cita bersama, atau pola pikir yang searah dalam merengkuh cita-cita, cita cita bersama inilah yang kita sebut idea bersama atau Ideologi.  Karena sesungguhnya Idelogi akan mengikat semua keberagaman menjadi satu pikiran.
Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multivarian, dari suku, agama, ras, bahasa, yang ideologilah yang mampu mengikat. Tanpa ideologi bersama bangsa ini akan menjadi kelompok kelompok kecil, dan terpecah ke semua arah. Bertolak dari pemikiran inilah maka Ideologi merupakan pokok pikir yang harus dikedepankan.
FUNGSI IDEOLOGI :
Destutt de Tracy adalah seorang filsuf dari Perancis kita pada tahun 1796 mengintrodusir kata Ideologi.  Sejatinya kata idéologie, merupakan gabungan 2 kata yaitu, idéo yang mengacu kepada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos, kata dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan logika dan rasio. Kemudia  Destutt de Tracy menggunakan kata ini dalam kaidah etimologi sebagai “ilmu yang meliputi kajian tentang asal usul dan hakikat ide atau gagas.
Jika dalam persoalan Idelogi dikaitkan dengan gagasan lalu disentuhkan dengan kebangsaan maka idelogi itu punya fungsi bermacam-macam, adapun fungsi yang dimaksud adalah :
  1. Sebagai Orientasi Dasar: Orientasi dasar yakni, membuka wawasan yang memberikan makna serta menunjukan tujuan dalam kehidupan masyarakat. Ideologi dalam hal ini berfungsi untuk menentukan suatu arah dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Suatu negara wajib mempunyai suatu ideologi agar dapat melangsungkan kehidupan bernegara. Jika suatu negara tidak memiliki suatu ideologi yang dianut, dapat diperediksikan negara tersebut akan mudah terpengaruh oleh ideologi-ideologi yang menyerang bangsa mereka sehingga bangsa tersebut akan dekat dengan kehancuran.(http://mengakujenius.com/6-fungsi-ideologi-bagi-suatu-negara-lengkap-penjelasannya/)
Dari pendapat diatas maka Idelogi berfungsi sebagai pengetahuan sekaligus bintang pengarah (star light) yang memberikan arahan mendasar kepada bangsa ini dalam berpikir, bertindak dan berperilaku. Sebagai orientasi dasar, maka setiap warga negara harus memiliki kesadaran bersama, kepentingan bersama dengan tidak menanggalkan kepentingan pribadi yang hakiki. Dalam membicarakan kebersamaan itu yang sangat menonjol adalah munculnya  kesadaran untuk rela memangkas ambisi-ambisi yang sangat individu, serta rela memudarkan sifat yang saling menegasi dan meniadakan. Kasadaran ini mengangkat kerelaan individu untuk menguatkan kebersamaan. Inilah fungsi ideologi sebagai pembuka wawasan seseorang. Tanpa adanya kesadaran ini, maka tujuan bersama tidak akan dicapai, melalui cara-cara apapun. Kesadaran berbangsa itu adalah pangkal pikir untuk menyelenggarakan negara. Kemudian jika dikaitkan kondisi bangsa yang sarwa ragam itu, maka kesadaran harus dimulai dari kebersamaan. Inilah yang akan melahirkan adigium kebangsaan, “karena bersama aku ada”     
2.     Struktur kognitif : Struktur kognitif yakni segala pengetahuan dan pandangan yang merupakan landasan untuk memahami segala kejadian yang terjadi disekitarnya. Struktur kognitif ini menjadi acuan dalam memahami dan menyikapi segala persoalan yang menghadapi sekelompok masyarakat atau bangsa ketika menghadapi masalah tertentu. Pemahaman ideologi oleh suatu bangsa dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang ada dalam negaranya, baik kebijakan politik, sosial, ekonomi, maupun kebudayaan (pemikiran ini diambil dari web-blog, http://mengakujenius.com/6-fungsi-ideologi-bagi-suatu-negara-lengkap-penjelasannya/)
Nalar berbangsa adalah rasio yang mendasari bangsa dalam melaksanakan kehendaknya, semuanya ditimbang berdasarkan struktur kognisi bangsa yang kita sebut idea bangsa berupa ideologi. Setiap keputusan selalu diambil berdasarkan struktur nalar, sehingga dijamin dalam ranah yang tepat dan tidak sampai keluar dari kaidah yang bermoral,  apalagi hingga out of control. Struktur nalar ini akan menjaga keseimbangan agar selama menjalankan roda kenegaraan tidak terombang-ambing keadaan. Kemajuan teknologi lalu sebaran informasi dengan berbagai spektrumnya akan menjadi faktor penggoda (lihat dan baca wacana Disrution Era).  Tanpa ideologi maka negara akan berada dipusaran argumentasi. Semua akan mempertahankan ide-idenya sendiri dengan daya solipisme yang kuat.
Struktur kognitif akan membawa setiap pemikiran dalam jengkal pemikiran kehidupan bangsa, untuk meneropong ralita empiri selanjutnya dinalarkan. Indonesia secara empiri memang berdiam berbagai bangasa yang memiliki pemikiran dan keyakinan yang berbeda beda, inilah yang seharusnya dibingkai menjadi nalar berbangsa.

3.     Norma yang menjadi Pedoman : Negara-negara yang berideologi sangat berpegag teguh terhadap norma-norma yang menjadi pedoman dalm berbangsa dan bernegara. Segala aktivitas dalam menjadi warga masyarakat. Jadi dalam bertindak selalu dalam batsan norma-norma yang terkandung dalam ideologi tersebut. Dengan berpedoman dengan norma-norma, seseorang dapat terarah dalam bertingkah laku. Sekali lagi tulisan ini masih mencandra dari artikel web-blog (http://mengakujenius.com/6-fungsi-ideologi-bagi-suatu-negara-lengkap-penjelasannya/)
Membicarakan sebuah perjalanan bangsa tentu tidak pernah lepas dari tata aturan (rule of counduct). Itulah tatakrama dalam bernegara, Norma akan mengarahkan kita pada persoalan yang boleh dilakukan dan yang dilarang untuk dijalankan. Jika orientasi dasar telah memberikan kita sebuah kesadaran yang rela menanggalkan “ke-akuan”  maka struktur kognitif akan menjustifikasi rasional bangsa untuk taat kepada komitment. Selanjutnya komitmen inilah yang kemudian jika dilakukan secara terus menerus akan menjadi internalisasi atau penghayatan. Itulah kemudian menjadi norma-norma kita dalam berbangsa dan bernegara. Jika ideologi difungsikan sebagai norma, maka segala persoalan akan mampu untuk diselesaikan dengan cara-cara yang amat sederhana. Tanpa harus berdebat dan berpolemik dengan penuh intrik. Norma membawa setiap warga bangsa memilki kesadara sebelum melakukan tindakan, norma juga mengukur etika ketika seorang-orang tengah menjalankan proses berbangsa, dan norma akan memberikan evaluasi atau menjadi wasit adil, jika bangsa telah melakukan proses menegara.
 

Katika pemikiran diatas, maka semuanya akan menjadi sumber pendidikan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami, menghayati, serta mempolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma yang terkandung didalamnya dalam mensinergikan diri membangun kebersamaan dalam Negara Kestuan Republik Indonesia.

SINERGI IDEOLOGI SEBAGAI KEKUATAN NKRI

     Jika Orientasi dasar bangsa sudah tercipta, lalu struktur kognitifmya telah menjadikan bagian dalam bertindak, dan norma-norma bernegara tertata dan ditaati, maka terjasilah sinergi untuk membangun NKRI.

Tercapai sinergi ini jika bangsa ini oleh ideologinya disarankan untuk tidak menjalankan :

  1. The winner takes all berarti pemenang akan menguasai segalanya. Siapa yang berkuasa dalam sebuah negara, akan menyikat habis siapapun kecuali bagi kepentingan kelompok, kroni, golongan ataupun keluarganya. Tidak pandang bulu, lawan politiknya tidak diberi kesempatan untuk hidup. Siapapun yang berbeda, apalagi yang dipandang berlawanan dianggap sebagai musuh karena itu tidak pernah akan tumbuh kebutuhan untuk saling berbagi. Ini berarti idologi belum berperan sebagai “orientasi dasar”
  2. Absolutness, suatu pikiran dan sikap yang serba mutlak. sagalanya dinilai hitam atau putih. Sikap ini akan menampilkan intoleransi, antidialog dan antikompromi dan sekaligus ketidakramahan pada orang lain. Hanya dirinya ataupun kelompoknya yang paling benar; sedangkan, lainnya salah. Sikap ini harus kita buang jauh‑jauh. Absolutisme akan melahirkan pemikiran free fight liberalism yang juga amat bertentangan dengan keadilan dan nilai kernanusiaan. Dalam prinsip tersebut kebebasan adalah demi kebebasan, kebebasan tanpa batas. Yang ini bearti ideologi belum berperan sebagi “struktur kognisi”
3.     TThe ends justify the means berarti prinsip yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan sebagai pengaruh dari sikap memutlakan segala sesuatu. Didalamnya juga terkandung semangat Machiavelli. Kita sering terjebak dalam prinsip To the greates good for to the greates people, sepanjang untuk kebaikan bagi yang terbesar bangsa ini. Maka segala sesuatu bersikap baik, benar, dan halal. Tentu saja pemikiran semacam ini sebaiknya dihindari, karena tidak disentuhkan norma.  Jika hal ini terjadi, maka dieologi belum berfungsi menjaga norma
Berbangsa dan bernegara adalah sebuah tindakan bersama, ketika bersama maka ada yang harus direlakan. Untuk menuju NKRI yang kuat sudah melalui proses learning yang lama, hanya dengan kebersamaan dicapai, karena sesungguhnya bangsa ini sarwa beda. 

 

 

*)* djoko adi walujo: Adalah Alumni Universitas Negeri Surabaya (UNESA- Dahulu IKIP SURABAYA), doctor business administration di JOSÈRIZAL UNIVERSITY OF PHILIPPINA, Salah satu anggota dewan pendidikan propinsi jawa timur, mantan anggota dewan Pembina perpustakaan masjid propinsi jawa timur, mantan wakil ketua PGRI propinsi jawa timur, mantan Gugus Pemikir Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP-PGRI) pusat, sekretaris ISPI- Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia propinsi jawa timur, sekretaris badan penyelenggara Universitas Adi Buana Surabaya,. Memiliki International Certificated untuk pelatihan guru-guru zone Asia-Pacific (EI-Edication International), Certificate “Leadership in Higher Education” – University Technolofy of Sydney-Australia

 

 

MENYIKAPI JATI DIRI DAN MEMPERSIAPKAN DIRI DI ASEAN COMMUNITY



Menyikapi jati diri dan mempersiapkan diri 
di ASEAN COMMUNITY 2015
disampaikan pada  Seminar Nasional “Revolusdi Pendidikan indonesia
 Menuju  ASEAN Community 2015
oleh : Djoko Adi Walujo*)

Pengantar

Membayangkan Komunitas ASEAN 2015', lalu mentera diri, dan berlaku antisipatif adalah kepastian. Jika hanya berandai-adai, lalu memasung rasa takut, maka agan tergilas oleh keadaan. Mungkin apa yang ada dalam imajinasi dan persepsi mahasiswa ? Apakah sudah banyak yang di “list” untuk bayangkan. Konsep, praksis, dan konsekuensinya yang harus ditanggung, atau hanya sekedar ikut arus? Mahasiswa sebagai generasi muda harus berani keluar dari pikiran liniaritas, atau hanya menjadi penonton teater kemjauan.   Kita harus siap tak hanya menyambut era Komunitas ASEAN tersebut. Apalagi mengandalkan bonus Tuhan berupa kekayaan melimpah di negeri ini.
        Komunitas ASEAN 2015, sesungguhnya adalah kesepakatan tentang 'komunitas tunggal' ASEAN muncul dalam KTT ASEAN di Bali 2003 yang menghasilkan 'Bali Concord II'. 'Kesepakatan Bali II'  dipandang sebagai langkah strategis menuju keseimbangan baru di antara negara-negara ASEAN, yang mencakup beberapa prinsip pokok; pemeliharaan stabilitas regional yang memungkinkan percepatan pertumbuhan ekonomi; penguatan, dan konsolidasi demokrasi, peningkatan penghormatan pada hak asasi manusia, dan penguatan tata kelola pemerintah yang baik dan penegakan supremasi hukum.
Lalu peran apa yang harus kita sambung Jika hali ini merupakan suratan, atau garis tangan ?

KESIAPAN SEBAGAI MAHASISWA DILINGKUP PENDIDIKAN

          Terkait dengan Asean Community 2015 ini, atmosfernya menuntut semua pihak secara cermat memahami, didalamnya mensyaratkan setiap orang atau institusi untuk mengedepankan profesionalisasi, tentunya termasuk guru. Suasana yang menglobal ini, harus direspon secara wajar, dan tidak boleh dihindari, apalagi lari realitas, tidak adaptip, atau lebih parah lagi menggapnya sebagai masalah sumir [ringan-sepele: Jawa]
Mencermati fenomena ini seharusnya menyadarkan kita semua, sebagai bangsa yang merdeka dan bermartabat untuk melakukan kalkulasi-kalkulasi positif dalam menatap masa depan. Yakni sebuah masa depan dalam guratan Asean yang bermuatan “mega-kompetitif”  disegala bidang. Mulai dari persoalan yang amat  sederhana hingga persoalan-persoalan yang amat pelik tersentuh oleh era ini.
Lalu bagaimana peran mahasiswa?
Mahasiswa untamanya yang terlingkup dalam fakultas pendidikan, maka dia harus berperang sebagai pengawal pendidikan sekaligus meletakkan pendudikan sebagai  axis kehidupan harus tetap mampu menjaga peradaban, oleh karenanya guru harus diperankan sebagai  pemicu kemajuan bangsa disetiap resonansi Asean atau global.
Mahasiswa dilingkuna fakultas pendidikan  harus menjadi motor yang fleksibel, dinamis dalam setiap perubahan, sehingga setiap perubahan harus berkonsekuensi pada tataran paradigma baru [novelty]. Mahasiswa yang statis serta maladaptip identik dengan  mengubur dirinya, yang pada gilirannya,  terpuruk dan teralienasi dari peradaban.

profesionalisme mendongkrak

paradigma dalam belajar  dan pembelajaran



Tajamnya persaingan harus diimbangi oleh tajamnya profesionalisme, sebagai ilustrasi bahwa hanya  seorang yang profesional selalu mencintai pekerjaan, dan pekerjaan menjadi bagian dirinya.  Tentunya juga profesionalisme bidang pendidikan . Profesionalisme sangat menjauhi istilah “setengah-setengah”, karena istilah setengah /akan menghilangkan makna profesionalisme.
Terdapat tiga pilar profesionalisme sebagi jati diri paradigma baru pembelajaran yang harus dikembangkan yakni :
¸  Expertise [keahlian]
¸  Responsibility [tanggung jawab]
¸  Corporateness [kesejawatan]
Keahlian merupakan gambaran senjata bagi seorang calon professional pendidik  dalam memberikan pengabdian terbaiknya kepada muridnya [client atau pelanggan- dalam istilah manajerial]. Keahlian adalah ukuran dari kemampuan individu untuk bertanding dan berbanding. Kemenangan selanjutnya akan melegitimasi sebuah keahlian.
Tangung jawab seorang profesional adalah terkait dengan keahliannya. Dengan tanggung jawab keahlian akan membangun kepercayaan dan kepuasan siswa yang diidentikkan sebagai pelanggan [customer satisfaction]. Keahlian yang dibarengi oleh tanggung jawab merupakan ciri profesionalisme yang mampu hidup di era kekinian.
Sedangkan “kesejawatan” adalah wahana saling menukar pengalaman yang berujung pada pengkayaan (enrichment) keahlian. Melalui  kesejawatan maka memprotek bila terdapat ancaman aneksasi profesi.




Wacana Paradigma Belajar dan  Pembelajaran
Suatu wacana yang harus dijadikan titik tolak dalam membangun pemahaman paradigma baru pembelajaran adalah wawasan cerdas, yakni sebuah wawasan yang ampu memberikan gambaran tentang jati diri untuk dapat melihat pembelajaran secara utuh [holistic]. Dikaitkan dengan jati diri kita sebagai insan pendidik, maka wawasan dibangun dengan meletakkan empat kaidah yakni :
*  Basic knowledge of fact
*  Knowledge of principles
*  Ability to evaluation
*  Ability to analyze

Basic knowledge of fact [Kemampuan Dasar Memahami Fakta]
Kemampuan dasar memahami sebuah fakta adalah kunci utama dalam paradigma baru pembelajaran. Utamanya bila dikaitkan dengan pengembangan sumber daya pendidik, fakta adalah suatu realitas yang harus disiasati untuk dapat menumbuh kembangkan sebuah peluang [opportunity]. Memahami fakta dalam analisis “SWOT” memungkinkan para pendidik/guru mengkalkulasi antara kekuatan [strength] dan kelemahaman [weakness]. Kelemahan dan kekuatan akan menyadarkan manusia  untuk melakukan siasat atau strategi.
Sebagai ilustrasi : Dalam era global seorang orang selalu dihadapkan pada dua tuntutan yakni “keunggulan tanding” [competitive advantages] dan “keunggulan banding” [comparative advantages].
Pemahaman fakta inilah yang akan melahirkan paradigma baru, berikut sebuah paradigma pembelajaran sebagai akibat sentuhan kekinian.


Knowledge of principles [Pengetahuan atas prinsip-prinsip]

P
engetahuan atas prinsip-prinsip mengandung konsekuensi bahwa “JIKA” selalu diikuti  “MAKA”.
Prinsip inilah yang harus dikembangkan dalam mencipta sumber daya pendidik  yang handal.  Melalui prinsip ini seorang-orang disadarkan bahwa pola sikap, pola laku dan pola tindak memiliki konsekuensi-konsekuensi sebanding.
Pengetahuan atas prinsip memungkinkan professional pendidik untuk berprestasi, karena hanya prestasi yang akan diikuti oleh kontra prestasi.
Juga sebaliknya akan terjadi kepada siapa saja, apakah individu, masyarakat, organisasi atau negara, bila nuansa prestasi kabur dan dikaburkan, maka kontra prestasinya akan berbentuk kubur.
Suatu kesimpulan yang diambil adalah munculnya  prestasi selalu berangkat dari niatan, perencanaan dan kerja keras.
Legitimasi akan diberikan sesuai dengan apa yang dilakukan.  Prinsip pengetahuan memberikan arah paradigma baru pembelajaran  yakni sebuah kemampuan proaktif yang berkelanjutan, yang secara terus menerus melakukan perbaikan pembelajaran secara total. [Total Quality Improvement].  

Ability to evaluation  [Kemampuan Melakukan Evaluasi]

K
emampuan melakukan evaluasi diperlukan untuk meneropong kondisi eksternal dan internal dalam mengembangkan wawasan yang cerdas, karena evaluasi secara internal selalu diawali oleh langkah “mawas diri” sedangkan evaluasi eksternal membangun masa depan dengan “olah budi”.
Evaluasi diri akan melahirkan “instrospeksi” dan evaluasi eksternal akan melahirkan “studi banding” [Benhmarchking]
Kemampuan ini mensinergi untuk proaktif terhadap kemajuan. Tanpa kemampuan melakukan evaluasi akan buta terhadap kemajuan, sehingga kemampuan prediksi akan tumpul dan cenderung terpuruk pada idola-idola sesat yang telah digambarkan oleh Fracis Bacon.
Idola idola ini harus dieliminasi, karena bila hal ini harus tumbuh dan berkembang maka kekalahan persaingan segera terwujud.  Adapun idola-idola  yang dimaksud antara lain :

*  The Idols of Cave  [Seperti katak dalam tempurung]
*  The Idols of Market place [Hanya manis dibibir]
*  The Idols of Theathre [ Asal bapak senang dan membebek]
*  The Idols of Tribe [sektoral memenangkan pikiran dan kelompok]

Ability to analyze [Kemampuan Melakukan Analisa]

B
entuk kemampuan yang menandai sikap kedewasaan, yakni sebuah sikap dalam menatap masa depan dengan berorientasi pada cara-cara bijak. Karena lahirnya suatu keputusan tidak dapat langsung namun terbentuk melalui tahapan fisis dengan didahului oleh analisa-analisa. Dalam ranah inilah segenap pertimbangan-pertimbangan akan diupayakan, bahwa hasil akhir akan memiliki nilai kebijakkan (love of wisdom).
Untuk menatap masa depan yang terkait dengan paradigma baru pembelajaran, utamanya guna mengembangkan sumber daya pendidik, kemampuan analisa adalah modal awal. Dengan kemampuan ini akan menajamkan visi seorang orang terhadap tantangan,  walaupun tantangan tersebut memilki resiko yang tinggi.

Hanya sebuah harapan


Ketika sebuah era baru menggantikan fungsi-fungsi era lama maka saran yang harus dipilih adalah melalukan adapatasi secara total dengan meninggalkan simbol-simbol masalalu yang menjerat. Menghindar adalah sebuah peristiwa yang secara pelahan-lahan menumpulkan sikap kita untuk terkungkung dalam suatu keadaan.
Era ASEAN Community inl yang akan memasuki milllennium ketiga memberikan jaminan kepada siapa saja yang berwawasan cerdas. Tanpa wawasan cerdas manusia akan  digilas oleh dirinya sendiri yang syarat dengan keluhan, dan semakin lama akan terasing oleh diri dan masyarakatnya.

MENJADI “BE READY PERSON”

PERSONALITAS ERA KEKINIAN
         Era kekinian menuntut untuk segera membekali diri dengan menatap masa depan malalui panataan diri sebagai pribadi yang tangguh, pribadi yang unggul. Lalu mempersiapkan antisipasi-antisipasi. Berikut pointer unggul itu:
1.      Sudahkan kita memiliki daya tahan “fortitude” ?:
Yakni kepribadian yang mengandalkan daya tahan diri dengan melingkapi sikap mental, keberanian (Courage), daya lenting (resilience), kesabaran (patience), kegigihan ketabahan hati (perseverance). Dan percaya diri (self confidence)

2.     Sudahkah kita memiliki kemampuan mengendalikan diri (self control) ?:
Pengendalian diri menjadi penting,  karena era kekinian memberikan bermacam-macam pilihan. Jika orang tergoda akan kehilangan jati diri, bahkan akan menjadi obyek daripada subyek. Manusia akan menjadi bulan-bulanan era kekinian, bersikap tidak fokus, dan cenderung mengikuti pusaran, giliran yang menakutkan adalah kehilangan kontrol diri.
Untuk antisipasi praktisnya, maka harus memiliki  disiplin diri (self –disipline); kemampuan untuk menunda kesenangan (to delay gratification) atau tidak cepat puas diri; kemampuan untuk melawan atau tahan terhadap godaan (to resits temtation); memilki sikap moderat (moderation); dan kemampuan menjaga kecenderungan sex (sexual self control)

3.     Sudahkan kita sadari bahwa kita harus menjadi manusia yang utuh (intergrity)?
Intergritas kepribadian di era kekinian memberikan sinyal bahwa manusia harus bersikap jujur, karena semua tindakan manusia akan terekam, dan semuanya akan dapat diputar ulang. Teknologi akan menyimpan segenap tindakan kita, dan kita akan sulit mengelak. Dari realita itu mentalitas kita harus mengikuti prinsip-prinsip moral (adhering to moral  principle); kesetiaan terhadap kata hati (faithfulness to correctly former concience); menjaga perkataan atau satunya kata dan perbuatan (keeping one word); konsisten secara etik (ethical consistency); serta memupuk jiwa 
Yang tulus dan ikhlas (being honest with oneself).

4.      Sudahkan kita menjadi pribadi yang memiliki sikap positif (positive ettitude)?
Jika benar kita memiliki sikap positif, berarti kita telah menyadiri bahwa diri kita adalah pribadi yang memiliki; semangat (ethusiasm), penuh harapan (hope); lentur, dapat  berubah dengan penyesuaian diri (flexibility); dan memiliki rasa humor (sense of humor).

5.     Sudahkah kita  menjadi orang yang bersikap rendah hati (humility)?;
Sikap rendah hati sekarang menjadi tumpuan kemajuan, rendah hati berarti orang menarik diri dari pola sikap ponggah, dan terjebak dalam pola sikap seperti “katak dalam tempurung”.  Merasa pintar sendiri, lupa bahwa era kekinian melaju dengan pesat, dan semuanya berubah dengan cepat.  Mental yang harus dipersiapkan adalah, sadar diri atau tahu diri (self – awareness); mau mengakui kesalahan dan bertanggung jawab (willingness to mistakes and responsibility to them); dan tumbuhnya keinginan untuk menjadi baik (the desire to become a better person).

6.      Apakah kita punya cinta (love)?
Dahsyatnya cinta, cinta dapat mengubah dunia berwarna, cinta dapat mendekatakan diri kita pada alam semesta. Yang terpenting cinta akan membuat kita saling menghormat, lau juga cinta yang membuat kita aman.  Era kekinian melibas tuntas sikap bermusuhan, sikap saling meniadakan.  Cinta membimbing kemajuan untuk saling memanusiakan liyan. Dengan cinta kita akan mengenal pikiran, perasaan dan sikap orang lain (empathy); dengan cinta kita memiliki rasa iba (compassion); cinta membuat orang ramah dan penuh kasih sayang (kidness), cinta mengajari orang  murah hati (generosity); Cinta mengondisi diri kita untuk mudah membantu orang lain (service), cinta akan membuat kita menjadi seorang pemaaf (forgiveness).

* djoko adi walujo: Adalah Alumni Universitas Negeri Surabaya (UNESA- Dahulu IKIP SURABAYA), doctor business administration di JOSÈRIZAL UNIVERSITY OF PHILIPPINA, Salah satu anggota dewan pendidikan propinsi jawa timur, mantan anggota dewan Pembina perpustakaan masjid propinsi jawa timur, mantan wakil ketua PGRI propinsi jawa timur, mantan Gugus Pemikir Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP-PGRI) pusat, sekretaris ISPI- Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia propinsi jawa timur, sekretaris badan penyelenggara Universitas Adi Buana Surabaya,. Memiliki International Certificated untuk pelatihan guru-guru zone Asia-Pacific (EI-Edication International), Certificate “Leadership in Higher Education” – University Technolofy of Sydney-Australia