(sila unduh Tanpa Ijin)
EVALUASI DIRI
http://unipasby.ac.id/files/20171229%20ED%20APT%20UNIPA%20Surabaya.pdf
INSTRUMEN APT
http://unipasby.ac.id/files/30122017%20Instrumen%20APT%20UNIPA%20Surabaya.pdf
Wednesday, January 3, 2018
Friday, November 3, 2017
Aplikasi Kebangsaan dalam Prespektif masa depan Untuk jasa pahlawan
Aplikasi Kebangsaan dalam Prespektif masa depan
Untuk jasa pahlawan
Disampaikan pada kegiatan
MEMATRI JIWA GENERASI MUDA MENERUSKAN CITA
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur
oleh
Dr. H. Djoko Adi Walujo,S.T.,MM*)
Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu
menghargai jasa para pahlawannya. Kalimat bijak ini acapkali kita dengar,bahkan
diucapkan orang banyak atau terpapas masal di Koran majalah dan media elektronik lainnya.Frekuensinya
lebih dahsyat ketika mendekati detik-detik peringatan hari Pahlawan yang jatuh
pada tanggal 10 Nopember. Tanggal tersebut kini ditetapkan sebagai hari
Pahlawan untuk mengenang pertempuran heroik arek-arek Suroboyo melawan tentara
sekutu.Dari penghelatan Yang hebat itu,
menyadarkan kita semua untuk menanyakan kembali disetiap hati sanubari kita,
utamanya pada generasi muda: “Apakah bangsa ini telah mengambil prakarsa cerdas
dalam menghargai jasa para pahlawannya?”, lalu bagaimanakah cara
mengaplikasikannya di masa depan?
Pada hakikatnya dalam hidup dan
kehidupan berbangsa, kita memerlukan hadirnya pahlawan-pahlawan. Keberadaannya
menjadi semakin mengental bahkan dapat dinyatakan sebagai kebutuhan kultural
masyarakat. Kehadirannya dalam masyarakat dirindukan, apalagi seiring dengan
perjumpaan bangsa dengan zaman yang mengglobal ini. Pahlawan adalah ikon “exempla” (keteladanan) bukan ikon “verba” (sebuah kata-kata), karena ia
merupakan sosok teladan yang menjadi sumber inspirasi bagi generasi lintas
zaman. Semangatnya pantang menyerah,
rela berkorban, cinta tanah air, ketegaran hati, bahkan tak pernah mengalkulasi
untung rugi adalah sebagian dari nilai-nilai yang terpatri dan melekat kuat pada
diri sosok pahlawan.
Bagaimanakah kita mengapresiasi
Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tanggal 10 November saat ini? Kemudian
bagaikama kita mengplikasikan di masa depan? Tentu jika dicermati banyak model
atau cara yang dapat dilaksanakan, terutama ketika kita berhasrat mewujudkan niatan
yang bermanfaat kepusaran kemajuan yang
tertuju pada kemandirian bangsa ini. Peringatan Hari Pahlawan jelas bukan hanya
sekadar mengingat jasa-jasa para pahlawan kita yang gugur di medan laga, tetapi lebih dalam dari hanya perenungan
belaka. Bangsa ini harus investasi kesadaran baru yang mengarah kepada sebuah
solusi bagaimana pemimpin bangsa ini mengajak rakyatnya mengisi kemerdekaan
dalam berbagai bidang kehidupan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Tentu ada yang harus dikedepankan
yakni pola pikir dan sikap kita, jangan sampai terlambat, bangsa dan negara ini
dalam memberikan apresiasi itu. Meskipun tak jarang, kita sering terlambat
dalam menilai kebaikan atau prestasi seseorang semasa hidupnya. Sering kita
jumpai, apresiasi, ucapan simpati, atau pengakuan prestasi berduyun-duyun
diberikan baru setelah orang tersebut telah ‘tak bersama kita lagi’. Padahal
semasa hidupnya, kita seakan lupa akan jasa-jasanya. Jangan sampai kita sibuk
mengungkapkan penghargaan, saat yang bersangkutan sudah tidak dapat merasakan
apa yang kita berikan.
Tentu yang diapresiasi akan lebih
bangga dan terhormat jika mereka bisa mengetahui dan merasakan bentuk apresiasi
yang kita berikan. Walau kita juga sama-sama tahu, orang-orang yang tulus
ikhlas seperti pahlawan dan para guru bangsa kita, tentu tak gila dengan puja,
dan tak terbuai denagn apresiasi serta penilaian yang diberikan orang.
Namun alangkah lebih bijak jika kita
menghargai atau memberi apresiasi saat yang punya prastasi masih bisa dengan
nyata menerima dan merasakannya. Setidaknya, ketokohan dan segala
keteladanan-nya dapat diturunkan dan dijadikan pembelajaran untuk kelak kita
terapkan demi pembangunan kehidupan negara tercinta kita.
GERERASI MUDA BERBICARA TENTANG
PAHLAWANNYA
“MENGHARGAI PAHLAWAN”
(Seperti yang ditawarkan Anne Adriani S. dalam blognya)
Catatan:
Berikut sebuah tulisan yang diunduh
dari blog – Anne Adriani S, seorang-orang yang usianya masih remaja. Menuangkan
gagasannya terkait dengan model dan cara menghargai pahlawan. Dengan gaya
penuturannya yang lugas, dan gaya penulisan diusianya.
Anne menawarkan gagasan menghargai
pahlawan sebagai berikut:
- Mengisi Kemerdekaan Indonesia dengan hal-hal yang positif.
Oke admin
jelasin sedikit deh dibagian ini, jadi kita itu mesti mengisi kemerdekaan Indonesia
itu dengan hal-hal yang bermanfaat bukan tawuran seperti yang sebagian
dilakukan oleh mahasiswa dan pelajar itu lhoh, gak patut dicontoh banget!
Malu-maluin! Para pahlawan kan perang demi membebaskan bangsa dari belenggu
penjajahan lah ini tawuran? Itu kan malah merusak persatuan dan kesatuan
bangsa! Menganggu banget tuh dalam hal kerukunan!. Masih banyak hal positif
yang bisa kita kerjakan untuk mengisi kemerdekaan NKRI.
- Kita anak muda sebagai generasi penerus bangsa harus belajar sebagai mestinya.
Bagian ini
pasti deh kalian mengerti. Jadi hayooo yang sekolahnya masih malas-malasan dan
main-main sekarang harus lebih seurius. Main-main sih boleh ya kalau sekedar
untuk mencairkan suasana belajar biar gak jenuh tapi jangan berlebihan.
- Selalu menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dengan cara saling menghargai dan toleransi dalam setiap perbedaan.
Jadi dalam
point ini kita harus mengingat kembali nih atau ceritanya mesti flashback ke
semboyan negara kita yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti walaupun
berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Keren banget kan tuh sekeren persebaran
budaya-budaya Indonesia yang berbeda namun tetap kece dengan ciri khasnya
masing-masing.Kalian kan tahu negara kita majemuk dalam berbagai hal.
- Turut ikut serta dan berapartisipasi dalam memperingati Hari-hari besar Negara.
Itu lhoh
biasanya kan kalau hari besar suka diadakan Upacara. Gak usah melayang
kemana-mana dulu deh ambil contoh di lingkup lingkungan sekolah aja. Setiap
Hari Senin pagi sebelum masuk kelas kan rutinitasnya melaksanakan Kegiatan
Upacara Bendera tuh, nah kita dalam melaksanakan upacara itu mesti disiplin
jangan mengobrol, bercanda dan melakukan hal lain yang dapat mengannggu
berlangsungnya upacara. Menurut survei pengamatan dan pengalaman admin sendiri
nih banyak para murid yang malas melaksanakan upacara bendera kebanyakan mereka
suka pura-pura sakit terus pergi ke UKS. Hal itu jangan dicontoh ya!. Padahalkan
kedisiplinan dan ketertiban saat upacara bisa jadi tolak ukut rasa patriotisme
dan nasionalisme kita.
- Mengamalkan isi dari Pancasila dan UUD 1945.
Admin gak
bisa jabarin dan menjalaskan satu satu tuh.Soalnya hal positif dalam kandungan
Pancasila banyak banget. Dan itu berfungsi demi menciptakan keamanan dan
ketertiban negara.
*Yang beragama Islam jangan lupa
juga yah mengamalkan isi Al-Qur’an dan Hadist jugamueheehe :D
- Menghidari pergaulan bebas yang menjurus ke hal-hal negatif.
Waaah ini
nih point yang sekarang mulai merajalela merasuki generasi muda jaman sekarang.
Kita sebagai manusia harus bisa memimpin diri sendiri untuk mengarahkan diri
kita ke arah jalan yang benar. Sekarang banyak terdapat geng geng motor yang
anarkis yang beranggotakan para pelajar dan pemuda. Dan yang lebih gawat lagi
sekarang banyak generasi bangsa yang terjerumus kecanduan mengkonsumsi narkoba
dan minuman keras. Waaaaahhh miris banget. Kalau generasi mudanya pada rusak
siapa dong yang mau melanjutkan tangku kepemimpinan bangsa kita tercinta ini. Mending
kayak mimin nih yang punya rencana bikin geng anak jenius Indonesia :p
Sebenarnya
masih banyak hal-hal yang dari kecil hingga besar untuk menghargai jasa para
pahlawan. Dari ke 6 point di atas kita bisa menghargai jasa pahlawan kita yang
rela mengorbankan harta benda dan nyawa demi negara kita.Jadi apabila kita
mulai melaksanakan point diatas jadi kesannya perjuangan para pahlawan itu
tidak sia-sia, kalau di sunda mah teu
cape gawe teu kapake gitu :p.Semoga kita semua menjadi generasti penerus
bangsa yang baik yang dapat mengharumkan nama bangsa Indonesia di dunia.Aamiin.
CARA MENGHORMATI JASA PAHLAWANNYA
Tulisan berikut diunduh dari internet tepatnya di alamat: http://aprilyakamis.wordpress.com
Karya Ajat M Fajar-okezone.
Berupa point-point bagaimana menghargai pahlawan dengan mengisi
kemerdekaan. Kalimat atau penuturan tulisan sesuai dengan aslinya
Beberapa Cara Untuk Mengisi Kemerdekaan Indonesia
Yang Baik :
1.
Belajar
dengan baik bagi pelajar dan mahasiswa serta bekerja dengan baik bagi yang
sudah bekerja lagi halal.
2.
Menjaga
keamanan dan ketertiban nasional dari segala bentuk ancaman pihak dalam maupun
luar.
3.
Menjalankan
pancasila, peraturan perundang-undangan yang berlaku, aturan agama, serta budaya
dalam masyarakat dengan baik dan benar.
4.
Saling
menghormati dan menghargai sesama anggota masyarakat dengan menerapkan
musyawarah mufakat, tepo seliro, gotong royong, toleransi, dan lain sebagainya.
5.
Mencintai
produk dalam negeri dengan menggunakan dan mengembangkan hasil produksi dalam
negeri daripada produk luar negeri.
6.
Tidak
melakukan perbuatan sia-sia yang tidak memberi manfaat seperti begadang,
hura-hura, madat, tawuran, dugem, clubbing, nongkrong di mall, melakukan tindak
kenakalan, dan lain sebagainya.
7.
Rela
berkorban dalam bela negara ketika kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia
diinjak-injak bangsa asing.
8.
Memupuk
semangat untuk maju dan menyetarakan diri dari bangsa-bangsa yang telah maju
dengan cara-cara yang baik demi terciptanya tujuan nasional seperti
kesejahteraan rakyat dan terciptanya kedamaian di dunia.
9.
Berperan
aktif dalam pembangunan negara dan daerah lingkungan sekitar serta menjaga
kondisi tersebut tetap dalam kondisi yang baik.
10. Serius dalam melaksanakan peringatan
kemerdekaan dan juga dalam mengikuti mengheningkan cipta untuk menghormati jasa
para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Tak lupa berikan doa kepada
para pahlawan agar Tuhan Yang Maha Esa menerima mereka di sisiNya.
SIMPULAN:
PERSPEKTIF KE DEPAN
Dari
paparan yang dibentang diatas dapat disimpulkan bahwa menghargai pahlawan tidak
hanya mengenang dan sekedar merenung tapi lebih diarahkan bagaimana melaukan
“maintenamce” merawat hasil hasil perjuangan. Bertidak cerdas dengan
mengerahkan segenap kemampuan. Kemampuan yang dimaksud adalah:
- Kemampuan bangsa dalam melihat fakta yang ada (ability to fact). Bangsa ini harus sadar bahwa lahir karena perjuangan para pahlawannya. Berlaku semena-mena dan melupakah sejarah adalah bentuk pengkhianatan fakta. Sehingga dapat menumpulkan perjuangan ke masa depan.
- Kemampuan bangsa dalam bertindak dan berpikir harus menjunjung dasar-dasar pengetahuan (ability to basic knowledge). Tanpa didasari dengan ilmu pengetahuan kita, maka akan membawa cenderungan yang bersifat sintementil dalam menghargai pahlawannya.
- Kemampuan bangsa dalam mengevaluasi perjuangan para pahlawannya (ability to evaluation). Setiap pekerjaan mulai harus mampu dievaluasi, dicermati dari berbagai dimensi, mulai dari etika, hingg etistika. Semua perjuangan harus mampu dipertanggungjawabkan. Menerima koreksi, kritik atau argumen yang berbeda adalah keniscayaan. Dengan demikian bangsa ini tidak gegabah dalam bertindak.
- Kemampuan bangsa dalam menganalisa gerak perjuangan (ablity to analysis). Bangsa ini dituntut untuk melakukan analisa terhadap segela sesuatu yang diakan dihadapi, sehingga setiap langkah yang diambil akan memiliki nilai-nilai starategi bagi kemajuan dimasa mendatang.
RUJUKAN YANG DIGUNAKAN
Djoko
Adi Walujo [2005]. Pendidikan Kewarnegaraan untuk korikulum berbasis kompetensi :
Penerbit Karya Mitra Surabaya
______________[2011].
Problema anarkhis dikalangan generasi muda disampakaikan pada :Rapat
koordinasi implmentasi kebijakan kepemudaan
______________[2012]. Dinamika
Masyarakat dalam mempersepsikan PPKN dengan Pendidikan Wawasan Kebangsaan
(Suatu Tinjuan Kompilatif). Disampaikan Lokakarya Aktualisasi
Nilai-Nilai Pancasila, Rasa Cinta Tanah Air, Kesadaran Bela Negara dan
Berkonstitusi - Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur.
* djoko adi walujo: Adalah Alumni Universitas Negeri Surabaya
(UNESA- Dahulu IKIP SURABAYA), doctor business administration di JOSÈRIZAL
UNIVERSITY OF PHILIPPINA, Salah satu anggota dewan pendidikan propinsi jawa
timur, mantan anggota dewan Pembina perpustakaan masjid propinsi jawa timur,
mantan wakil ketua PGRI propinsi jawa timur, mantan Gugus Pemikir Yayasan
Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP-PGRI) pusat, sekretaris ISPI- Ikatan Sarjana
Pendidikan Indonesia propinsi jawa timur, sekretaris badan penyelenggara
Universitas Adi Buana Surabaya,. Memiliki International Certificated untuk
pelatihan guru-guru zone Asia-Pacific (EI-Edication International), Certificate
“Leadership in Higher Education” – University Technolofy of Sydney-Australia
SALAH PENERAPAN TEKNOLOGI MENGHASILKAN DEHUMANISASI
21st CENTURY EDUCATION – BEYONT THE FORNTIERS
PROGRAM TOURONKAI IPGKBA 2016

SALAH PENERAPAN TEKNOLOGI MENGHASILKAN
DEHUMANISASI
Oleh:
Djoko Adi Walujo
Rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
SUMMARY:
The fact that the twenty-first (21st)
century claims itself as the era of technology is undeniable. However, there
are a great number of misimplementation in the educational world which cause
people to be alienated. This may be affected by techno mania. Education is
expected to be a moderator in order that malpractice in teaching learning will
be reduced. The solution which can be offered is a balance between competence
and character. In addition, the relevant strategy can be blended learning which
can synergize the on-line and off-line learning model.
PENGANTAR
Kehadiran teknologi yang
semakin canggih dalam kuantita dan kualita tak terelakkan kehadirarnnya. Semua
direnacanakan untuk kemaslahatan, namun kenyataannya juga membawa dampak sangat
buruk, akibat salah penerapan.
Sesungguhnya kehadiran teknologi
itu dapat memperkecil dampak, namun karena kesalahan penerapan justru
sebaliknya akan membuat manusia teralienasi dari kodratnya.
Pendidikan harus menjadi pengurai kejadian ini, memperkecil terjadinya
dehumanisasi sebagai akibat salah penerapan, kemudian pendidikan membentenginya
dengan penanaman nilai-nilai yang manusiawi. Secara filosofis teknologi harus
dikontrol dengan kaidah keilmuan secara utuh, mulai dari sisi ontologis (wujud teknologi itu), epistemologis
(bagaimana kehadirannya secara
metodologis), kemudian aksiologis manfaat dan nilai
etikanya.
TEKNOLOGI HADIR DENGAN PLUS MINUSNYA
Teknologi sebagai anak kandung ilmu pengetahuan, hadir secara netral,
tergantung siapa yang menggunakannya
(Albert Einstein)
Kehadiran teknologi yang
semula ditujukan untuk membantu meringankan beban manusia dalam mengarungi
hidupnya, ternyata membawa dampak pada kehidupan psikologis, sosial, bahkan
pada ranah yang memudarkan etika anusia hingga terjadi dehumanisasi. Hal ini
telah dirasakan oleh Albert Nobel, ketika atoom yang ditujukan untuk
kemaslahatan manusia kini berubah menjadi musuh manusia, karena penggunaan yang
salah. Atoom ternyata dapat berubah menjadi alat pembasmi manusia. Tak
terhitung jumlahnya, bahkan ribu hingga jutaan manusia dapat binasa dalam kurun
waktu yang sangat cepat. Renungan Albert Nobel itu lahir setelah melihat
kedahsyatnya teknologi, namun disisi yang berbeda mendatangkan malapetaka
hebat. Inilah sebuah kata kunci (keyword)
yang harus dipegang oleh semua orang, utamanya para ulama, pendidik, politisi
bahkan para birokrat untuk melihat cermat dapak buruk teknologi.
Terdapat tiga model orang
memandang dan menggunakan teknologi, yakni, technophilia, technomania dan
technophobia.
- Technophilia, adalah pola sikap manusia dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi atas dasar pemikiran yang rasional dan cermat. Dalam memanfaatkan selalu mempertimbangkan dampak buruknya. Bahkan technophilia mengatarkan manusia untuk sadar bahwa teknologi selalu membawa dampak buruk apapun canggihnya teknologi. Dampak buruk teknologi kadang tidak sebanding dengan dampak kebaikkannya. Dikaitkan dengan pemanfaatan Teknologi Informasi, maka jika kita menggunakannya harus berhitung secara cermat bergai kemungkinan dampak negatif yang timbul.
- Technomania, adalah pola sikap dalam menggunakan teknologi tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya. Secara membabi buta, bahkan mengabaikan ruang waktu, ruang etika, bahkan penggunaan teknologi hanya digunakan untuk pemuasan kebutuhan sesaat. Berpikir yang pendek (shortcut), dan cenderung individualistik nyaris hadir bersama dalam ranah technomania. Terkait dengan pemanfaatan Teknologi Informasi, maka harus ada upaya cerdas untuk mencermaati keadaan ini. Guru tidak hanya fasilitator materi, tetapi harus berperan sebagai filter, yang menyaring situs-situs prohibbited secara hati-hati dan tidak diketahui siswa.
- Tecnophobia, adalah pola sikap yang harus dihindari dalam dunia pendidikan. Pola ini menggambarkan sebuah sikap yang menjauhi teknologi. Dalam technophobia tergambarkan sebuah pola sikap yang menentang hadirnya teknologi, selalu berprasangka negatif terhadap terknologi. Pertimbangan yang digunakan, biasannya adalah sebuah kepercayaan atau nilai-nilai yang menggangaap bahwa teknologi selalu menghacurkan kehidupan manusia. Dikaitkan dengan pemanfaatan Teknologi Informasi, maka jika hal ini terjadi akan menimbulkan terkungkungnya infomasi, bahkan akan cenderung tertutup terhadap perkembangan teknologi.
SARAN PARA PAKAR DI ERA 21
Di Asia para pendidik masih minim inovasi (Vries, 2008), perubahan
kruikulum, penerapan model pembelajaran, metode, media pembelajaran yang
kreatif masih terus menerus dikembangkan di kalangan pendidik, sehingga
kompetensi mereka bisa meningkatkan dan mampu menjawab berbagai tantangan yang
datang dari luar.
Disisi
lain manajemen dalam dunia pendidikan, termasuk kontrol kualitas (quality
control) masih terus menerus digali untuk menjawab tantangan pendidikan dalam
rangka melahirkan pendidik yang profesional dan kompeten, melalui pendidikan
yang berkualitas dan bermutu melahirkan generasi yang hebat. Sebagai contoh
beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa masih banyak siswa baik di Indonesia
maupun negara lainnya di Asia Tenggara hasil temuan TIMMS dan PISA kajian
bidang IPA dan Matematika, dirasakan masih banyak ketertinggalan dari anak
didik kita dalam menjawab soal-soal yang mengarah pada Higher Order Thinking Skill
(HOTS), artinya bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan masih ada
permasalahan di dalamnya.
Menurut Robert B Tucker (2001)
diidentifikasi ada sepuluh tantangan di abad 21 yaitu 1.) kecepatan (speed),
2.) kenyamanan (convinience), 3.) gelombang generasi (age wave),
4.) pilihan (choice), 5.) ragam gaya hidup (life style) 6.)
kompetisi harga (discounting), 7.) pertambahan nilai (value added)
8.) pelayanan pelanggan (customer service), 9.) teknologi sebagai
andalan (techno age), 10.) jaminan mutu (quality control).
Menurut Robert B Tucker kesepuluh tantangan itu menuntut inovasi
dikembangkannya paradigma baru dalam pendidikan seperti: accelerated learning, learning revolution, megabrain, quantum learning,
value clarification, learning than teaching, transformation of knowledge, quantum quotation (IQ, EQ, SQ, dll.), process approach, Forfolio evaluation, school/community
based management, school based
quality improvement, life skills,
dan competency based curriculum
(Mohammad Surya, 2011). Paparan Tucker menunjukkan bahwa ada yang harus berubah
di dunia pendidikan, tentu perubahan tersebut disesuaikan dengan kondisi yang
ada, walaupun Tucker sudah memaparkan soslusinya masih memerlukan kajian lagi.
Sehingga ke depan dalam proses pendidikan harus ada perubahan, seperti apa perubahan yang digagas
dalam forum ini.
PRAKSIS UNIVERSITAS ADI BUANA
Terdapat isu dalam pendidikan yang sekaligus menjadi jawaban atas tantangan
yang ada di dunia pendidikan yakni 2K. Sejatinya
2K adalah jawaban mendasar atas tantangan
ke depan, yakni (1) Kompetensi (2) Karakter (sikap, nilai) (Mutohir, Muhyi,
Albertus, 2011). Karakter kita kenal
sebagai nilai, atau sikap, penguatan karakter dapat dilakukan dengan berbagai
cara baik menggabungkan nilai karakter global dan nilai local (local wisdom).
Universitas PGRI
Adi Buana Surabaya terus berupaya membangun kompetensi para mahasiswa melalui
penguatan tri dharma perguruan tinggi sedangkan penguatan karakter di
Universitas PGRI Adi Buana Surabaya memiliki kekhususan yang dikenal dengan
Semangat PAGI (Spirit in Character) P : Peduli (Caring), A : amanah
(trustworthiness), G: GIgih (Perseverance) dan I : Inovatif (Innovatif) (Sutijono, Djoko Adi Walujo,
Widodo, Dwi Retnani, M. Muhyi, 2015). Semangat PAGI mampu menggabungkan nilai dari karakter
moral dan karakter kinerja. Karakter moral berkaitan dengan moralitas seseorang
seperti nilai peduli dan amanah, sedangkan karakter kinerja butuh inovasi dan
kegigihan dalam meraih sukses, seorang innovator (inovasi) yang gigih sehingga
meraih sukses (karakter kinerja) karena dibalut oleh amanah dan peduli (karakter moral).
Dalam konteks kegiatan di dunia Pendidikan,
Berkowits, Bier (2007) Character Pendidikan karakter dapat berjalan dengan baik
ketika diimplementasikan dengan penuh
ketaatan (fidelity), menyeluruh (broadly), dan memberikan dampak yang sangat
luar biasa. Berkowits dan Bier menambahkan bahwa Pendidikan Karakter (penanaman
nilai) berjalan dengan efffektif yakni dengan pengembangan profesional,
strategi pembelajaran, fokus pada pendidikan nilai, pelatihan yang mengarah
pada sosial dan kompetensi emosional, keteladanan, strategi manajemen prilaku
di kelas, pengabdian pada masyarakat. Pendidikan terus diupayakan untuk
mengembangkan kompetensi dan karatker (nilai) melalui beberapa faktor penting
yang disampaikan oleh Berkowits dan Bier.
Sain
dan teknologi yang tinggi yang dikuasi seseorang ke depan dapat dijawab oleh
pendidikan dengan melahirkan lulusan yang kompeten, tetap harus didukung dengan
sikap atau nilai atau karakter yang baik, karena teknologi juga alat maka
terkembali kepada pengguna alat tersebut sudah mampu bersikap baik dalam arti
menggunakan teknologi untuk kemajuan peradapan umat manusia, kebaikan untuk
umat manusia.
Untuk
mengaplikasikan 2 K sehingga berdampak
pada perubahan yang signifikan tentu diperlukan suatu cara dalam
pembelajarannya secara tepat. Maka salah satu cara tersebut adalah Blended Learning. Menggabungkan tidak
hanya satu model belajar di kelas dalam menjawab tantangan-tantangan yang ada. Blended learning atau hybrid learning
untuk mengajak anak didik dalam proses belajar di kelas maupun di luar kelas,
yang memadukan teknologi masa depan dan saat ini, sehingga penggunaan teknologi
yang tepat diharapkan mampu mendorong penguasaan keterampilan dan pengetahuan
menjadi lebih baik lagi dengan dukungan teknologi yang ada pada saat ini.
Peningkatan kompetensi guru terkait
dengan penguasaan Blended Learning menjadi sebuah keharusan, mulai dari tataran
konsep sampai pada tataran implementasi yang ada di dalam tingkat satuan
pendidikan. Berbagai pelatihan yang mengedepankan hgybird learning menjadi
salah satu pendorong untuk menjadikan para pendidik memiliki kompetensi yang
lebih baik dari sebelumnya, teknologi sudah menjadi bagian dari belajar,
teknologi tidak terpisahkan dari belajar sehingga terjadi akselerasi dalam
proses pembelajaran.
HARAPAN
Seorang pendidik yang hebat memiliki
kompetensi yang berkualitas tinggi namun ia dibalut dengan karakter atau nilai
atau sikap yang baik. Agar hal tersebut dapat terwujud
dalam dalam dunia pendidikan sampai pada tingkat satuan pendidikan diperlukan
suatu pendekatan atau model. Salah satu model yang dapat menjawab tantangan ke
depan adalah Blended Learning, yang mengedepankan multi approach. Sehingga
penguatan ke depan adalah pembangunan SDM yang Kompeten dan SDM yang
berkarakter bisa terwujud baik untuk pendidik maupun anak didik.
DAFTAR PUSTAKA
Berkowits, Bier, 2007, What Works in Character Education, Journal of Research in Character
Education, 5(1), halaman 29-48.
Mutohir, Muhyi Albertus, 2011, Berkarakter dengan Berolahraga dan Berolahraga dengan Berkarakter,
Java Pustaka, Surabaya.
Sutijono, Djoko Adi Walujo, Widodo, Dwi Retnani, M.
Muhyi, 2015, Best Praksis Pendidikan
Karakter Universitas PGRI Adi Buana Surabaya Melalui Semangat PAGI, Andi
Offset, Jogjakarta.
Vries, de L. 2008. Overview of Recent Innovative Practices in Physical Education and
Sports in Asia, Editor Lay Cheng Tan, Innovative Practices In Physical
Education and Sports In Asia, UNESCO Asia and Pacific Regional Bureau for
Education, Thailand.
Mohammad Surya 2011, Inovasi Bimbingan Dan Konseling:Menjawab Tangangan Global
http://boharudin.blogspot.co.id/2011/05/inovasi-bimbingan-dan-konselingmenjawab.html
IDEOLOGI KEBANGSAAN DALAM SINERGITAS KEKUATAN NKRI
Seminar sehari
Karakter,
Kader Bangsa
Ideologi Kebangsaan dalam Sinergitas Kekuatan
Djoko aw*)
PENGANTAR
Fenomena sosial yang berkembang
akhir-akhir ini memerlukan tingkat kewaspadaan tinggi dari seluruh masyarakat
Indonesia. Kondisi ini mendorong setiap komponen bangsa untuk kembali
merenungkan secara mendalam tentang hakikat dan dasar‑dasar fundamental
kehidupan bangsa ini. Kita kembali mempertanyakan tentang pola pikir, sikap, dan nilai‑nilai serta
pandangan hidup yang kita anut. Bangsa ini membutuhkan pembentukan karakter dan
watak, yaitu :
Pertama, karakter bangsa yang bermoral (religius) Bangsa ini harus
sarat dengan nilai‑nilai moral dan etika keagamaan sebagai sebuah pandangan dan
praktek.
Kedua,
karakter
bangsa yang beradab. Baradab dalam arti luas menjadi suatu bangsa yang memiliki
karakter berbudaya dan berperikemanusiaan.
Ketiga,
karakter
bangsa yang bersatu. Didalamnya termasuk menegakkan toleransi. Tidak mungkin
kita bersatu tanpa adanya toleransi, harmonis dan bersaudara.
Keempat,
karakter
bangsa yang berdaya Dalam arti yang luas, berdaya berarti menjadi bangsa yang
berpengetahuan (knowledgeble), terampil
(skillful), berdaya saing (competitive) secara mental, pemikiran
maupun teknis. Daya bukan sekedar dalam arti materi dan mekanik, melainkan
dalam makna secara mental, hati dan pikiran kita; yakni state of mind.
Kelima,
karakter
bangsa yang berpartisipasi. Partisipasi amat diperlukan untuk menghapus sikap
masa bodoh, mau enaknya saja, dan tidak pernah peduli dengan nasib bangsa.
Karakter partisipasi ini ditandai dengan penuh peduli, rasa dan sikap
tangggungjawab yang tinggi, serta komitmen yang tumbuh menjadi karakter dan
watak bangsa kita.
Kemudian modal apa yang harus
menjawab persoalan ini, adalah pengukuhan terhadap cita-cita bersama, atau pola
pikir yang searah dalam merengkuh cita-cita, cita cita bersama inilah yang kita
sebut idea bersama atau Ideologi. Karena
sesungguhnya Idelogi akan mengikat semua keberagaman menjadi satu pikiran.
Bangsa Indonesia sebagai bangsa
yang multivarian, dari suku, agama, ras, bahasa, yang ideologilah yang mampu
mengikat. Tanpa ideologi bersama bangsa ini akan menjadi kelompok kelompok
kecil, dan terpecah ke semua arah. Bertolak dari pemikiran inilah maka Ideologi
merupakan pokok pikir yang harus dikedepankan.
FUNGSI IDEOLOGI :
Destutt
de Tracy adalah seorang filsuf
dari Perancis kita pada tahun 1796 mengintrodusir kata Ideologi.
Sejatinya kata idéologie, merupakan gabungan 2 kata yaitu, idéo
yang mengacu kepada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos,
kata dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan logika dan rasio. Kemudia Destutt
de Tracy menggunakan kata ini dalam kaidah
etimologi sebagai “ilmu
yang meliputi kajian tentang asal usul dan hakikat ide atau gagas.
Jika dalam
persoalan Idelogi dikaitkan dengan gagasan lalu disentuhkan dengan kebangsaan
maka idelogi itu punya fungsi bermacam-macam, adapun fungsi yang dimaksud
adalah :
- Sebagai Orientasi Dasar: Orientasi dasar yakni, membuka wawasan yang memberikan makna serta menunjukan tujuan dalam kehidupan masyarakat. Ideologi dalam hal ini berfungsi untuk menentukan suatu arah dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Suatu negara wajib mempunyai suatu ideologi agar dapat melangsungkan kehidupan bernegara. Jika suatu negara tidak memiliki suatu ideologi yang dianut, dapat diperediksikan negara tersebut akan mudah terpengaruh oleh ideologi-ideologi yang menyerang bangsa mereka sehingga bangsa tersebut akan dekat dengan kehancuran.(http://mengakujenius.com/6-fungsi-ideologi-bagi-suatu-negara-lengkap-penjelasannya/)
Dari pendapat
diatas maka Idelogi berfungsi sebagai pengetahuan sekaligus bintang pengarah (star light) yang memberikan arahan
mendasar kepada bangsa ini dalam berpikir, bertindak dan berperilaku. Sebagai
orientasi dasar, maka setiap warga negara harus memiliki kesadaran bersama,
kepentingan bersama dengan tidak menanggalkan kepentingan pribadi yang hakiki.
Dalam membicarakan kebersamaan itu yang sangat menonjol adalah munculnya kesadaran untuk rela memangkas ambisi-ambisi
yang sangat individu, serta rela memudarkan sifat yang saling menegasi dan
meniadakan. Kasadaran ini mengangkat kerelaan individu untuk menguatkan
kebersamaan. Inilah fungsi ideologi sebagai pembuka wawasan seseorang. Tanpa
adanya kesadaran ini, maka tujuan bersama tidak akan dicapai, melalui cara-cara
apapun. Kesadaran berbangsa itu adalah pangkal pikir untuk menyelenggarakan
negara. Kemudian jika dikaitkan kondisi bangsa yang sarwa ragam itu, maka
kesadaran harus dimulai dari kebersamaan. Inilah yang akan melahirkan adigium
kebangsaan, “karena bersama aku ada”
2. Struktur
kognitif :
Struktur
kognitif yakni segala pengetahuan dan pandangan yang merupakan landasan untuk
memahami segala kejadian yang terjadi disekitarnya. Struktur kognitif ini
menjadi acuan dalam memahami dan menyikapi segala persoalan yang menghadapi
sekelompok masyarakat atau bangsa ketika menghadapi masalah tertentu. Pemahaman
ideologi oleh suatu bangsa dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang ada
dalam negaranya, baik kebijakan politik, sosial, ekonomi, maupun kebudayaan (pemikiran
ini diambil dari web-blog, http://mengakujenius.com/6-fungsi-ideologi-bagi-suatu-negara-lengkap-penjelasannya/)
Nalar berbangsa adalah rasio yang mendasari bangsa dalam melaksanakan
kehendaknya, semuanya ditimbang berdasarkan struktur kognisi bangsa yang kita
sebut idea bangsa berupa ideologi. Setiap keputusan selalu diambil berdasarkan
struktur nalar, sehingga dijamin dalam ranah yang tepat dan tidak sampai keluar
dari kaidah yang bermoral, apalagi
hingga out of control. Struktur nalar
ini akan menjaga keseimbangan agar selama menjalankan roda kenegaraan tidak
terombang-ambing keadaan. Kemajuan teknologi lalu sebaran informasi dengan
berbagai spektrumnya akan menjadi faktor penggoda (lihat dan baca wacana Disrution Era). Tanpa ideologi maka negara akan berada
dipusaran argumentasi. Semua akan mempertahankan ide-idenya sendiri dengan daya
solipisme yang kuat.
Struktur kognitif akan membawa setiap pemikiran dalam jengkal pemikiran
kehidupan bangsa, untuk meneropong ralita empiri selanjutnya dinalarkan.
Indonesia secara empiri memang berdiam berbagai bangasa yang memiliki pemikiran
dan keyakinan yang berbeda beda, inilah yang seharusnya dibingkai menjadi nalar
berbangsa.
3.
Norma yang menjadi Pedoman : Negara-negara
yang berideologi sangat berpegag teguh terhadap norma-norma yang menjadi
pedoman dalm berbangsa dan bernegara. Segala aktivitas dalam menjadi warga
masyarakat. Jadi dalam bertindak selalu dalam batsan norma-norma yang
terkandung dalam ideologi tersebut. Dengan berpedoman dengan norma-norma,
seseorang dapat terarah dalam bertingkah laku. Sekali lagi tulisan ini masih
mencandra dari artikel web-blog (http://mengakujenius.com/6-fungsi-ideologi-bagi-suatu-negara-lengkap-penjelasannya/)
Membicarakan sebuah perjalanan bangsa tentu tidak pernah lepas dari tata
aturan (rule of counduct). Itulah tatakrama dalam bernegara, Norma akan
mengarahkan kita pada persoalan yang boleh dilakukan dan yang dilarang untuk
dijalankan. Jika orientasi dasar telah memberikan kita sebuah kesadaran yang
rela menanggalkan “ke-akuan” maka
struktur kognitif akan menjustifikasi rasional bangsa untuk taat kepada
komitment. Selanjutnya komitmen inilah yang kemudian jika dilakukan secara
terus menerus akan menjadi internalisasi atau penghayatan. Itulah kemudian
menjadi norma-norma kita dalam berbangsa dan bernegara. Jika ideologi
difungsikan sebagai norma, maka segala persoalan akan mampu untuk diselesaikan
dengan cara-cara yang amat sederhana. Tanpa harus berdebat dan berpolemik
dengan penuh intrik. Norma membawa setiap warga bangsa memilki kesadara sebelum
melakukan tindakan, norma juga mengukur etika ketika seorang-orang tengah
menjalankan proses berbangsa, dan norma akan memberikan evaluasi atau menjadi
wasit adil, jika bangsa telah melakukan proses menegara.
Katika pemikiran diatas, maka semuanya akan menjadi sumber pendidikan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami, menghayati, serta mempolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma yang terkandung didalamnya dalam mensinergikan diri membangun kebersamaan dalam Negara Kestuan Republik Indonesia.
SINERGI IDEOLOGI SEBAGAI KEKUATAN NKRI
Jika Orientasi dasar bangsa sudah tercipta, lalu struktur kognitifmya telah menjadikan bagian dalam bertindak, dan norma-norma bernegara tertata dan ditaati, maka terjasilah sinergi untuk membangun NKRI.
Tercapai sinergi ini jika bangsa ini oleh ideologinya disarankan untuk tidak menjalankan :
- The winner takes all berarti pemenang akan menguasai segalanya. Siapa yang berkuasa dalam sebuah negara, akan menyikat habis siapapun kecuali bagi kepentingan kelompok, kroni, golongan ataupun keluarganya. Tidak pandang bulu, lawan politiknya tidak diberi kesempatan untuk hidup. Siapapun yang berbeda, apalagi yang dipandang berlawanan dianggap sebagai musuh karena itu tidak pernah akan tumbuh kebutuhan untuk saling berbagi. Ini berarti idologi belum berperan sebagai “orientasi dasar”
- Absolutness, suatu pikiran dan sikap yang serba mutlak. sagalanya dinilai hitam atau putih. Sikap ini akan menampilkan intoleransi, antidialog dan antikompromi dan sekaligus ketidakramahan pada orang lain. Hanya dirinya ataupun kelompoknya yang paling benar; sedangkan, lainnya salah. Sikap ini harus kita buang jauh‑jauh. Absolutisme akan melahirkan pemikiran free fight liberalism yang juga amat bertentangan dengan keadilan dan nilai kernanusiaan. Dalam prinsip tersebut kebebasan adalah demi kebebasan, kebebasan tanpa batas. Yang ini bearti ideologi belum berperan sebagi “struktur kognisi”
3.
TThe
ends justify the means berarti prinsip yang menghalalkan segala
cara untuk mencapai tujuan sebagai pengaruh dari sikap memutlakan segala sesuatu.
Didalamnya juga terkandung semangat Machiavelli. Kita sering terjebak dalam
prinsip To the greates good for to the greates people, sepanjang untuk kebaikan
bagi yang terbesar bangsa ini. Maka segala sesuatu bersikap baik, benar, dan
halal. Tentu saja pemikiran
semacam ini sebaiknya dihindari, karena tidak disentuhkan norma. Jika hal ini terjadi, maka dieologi belum
berfungsi menjaga norma
Berbangsa
dan bernegara adalah sebuah tindakan bersama, ketika bersama maka ada yang
harus direlakan. Untuk menuju NKRI yang kuat sudah melalui proses learning yang
lama, hanya dengan kebersamaan dicapai, karena sesungguhnya bangsa ini sarwa
beda.
*)* djoko adi walujo: Adalah Alumni Universitas Negeri Surabaya
(UNESA- Dahulu IKIP SURABAYA), doctor business administration di JOSÈRIZAL
UNIVERSITY OF PHILIPPINA, Salah satu anggota dewan pendidikan propinsi jawa
timur, mantan anggota dewan Pembina perpustakaan masjid propinsi jawa timur,
mantan wakil ketua PGRI propinsi jawa timur, mantan Gugus Pemikir Yayasan
Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP-PGRI) pusat, sekretaris ISPI- Ikatan Sarjana
Pendidikan Indonesia propinsi jawa timur, sekretaris badan penyelenggara
Universitas Adi Buana Surabaya,. Memiliki International Certificated untuk
pelatihan guru-guru zone Asia-Pacific (EI-Edication International), Certificate
“Leadership in Higher Education” – University Technolofy of Sydney-Australia
Subscribe to:
Posts (Atom)