Google

Monday, April 16, 2018

BANGKIT BERSAMA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0


Surabaya 16 April 2018
BANGKIT BERSAMA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Oleh :  Djoko Adi Walujo
      Setiap era akan ada natural selection yang sering orang menyebutnya seleksi alam, bukan fiksi tapi realitas empiri, bukan khayalan tapi kenyataan. Banyak perusahaan, organisasi atau apapun namanya, ketika sebuah era datang dengan waktunya akan menuntut daya adaptasi yang sangat tinggi. Pada saat itulah organisasi diuji, kemudian jika tidak segera melantunkan lagu sesuai genrenya atau menari-nari sesuai perkembangan zamannya, maka akan ditinggalkan, lebih parah akan punah tiada noktah dan akan hilang lalu sulit untuk dikenang. Setidaknya harus disediakan daya kapabilitas yang digdaya, cepat, cerdas agar tidak terlibas. Tentu semua organisasi akan merespons sesuai dengan kemampuannya, sesuai dengan kadar niatnya, sesuai dengan budaya organisasinya, tak terkecuali Universitas Adi Buana harus menjaga eksitensi dipusaran nyata.
     Sejatinya ada yang amat penting dan tidak boleh sedikitpun terlena apalagi tertidur dengan lelap lalu hanya mengigau keberhasilan tanpa menabung kesungguhan. Tentu kita masih ingat buah pikir Gary Hamel dan C.K. Prahalad dalam bukunya Competing For The Future . Awakening sebuah kata dari ribuan kata yang ada di buku Prahalad.  Jika kita ingin menuju ke wilayah kompetitif harus bangun dari tidur yang terlelap. Awakening adalah kunci adaptasi yang merupakan kesadaran baru, menggunggah niat  dengan tambatan tali kuat solidaritas. Bangun bersama adalah suatu harapan untuk mempercepat tujuan. Universitas PGRI  Adi Buana tentu segera bangkit di era ini, dengan menggunakan modal yang sarwa cukup diberi oleh pimpinan masa lalu. Manfaatkan dengan benar sebagai wahana untuk meloncat lebih tinggi lagi. Bersyukur sembari memberikan hormat kepada sang pendahulu bukan keliru bukan pula tabu, karena sebuah milestone adalah rangkaian dari periode ke periode. Kemajuan saat ini karena ada batu lompatan dari periode yang sebelumnya. Kata bangkit di sini hanya menujukkan tantangan karena beda zaman.
       Pada zaman yang penuh dengan lalu lalang informasi, kemudian sambung menyambung dan saling terhubung memungkinkan kita semua menata diri, yakni bangkit dibidang teknologi informasi. Jangan ada lagi phobi teknologi. Era  Revolusi Industri 4.0 ini harus dicermati karena membawa gerbong data yang sangat lengkap, bahkan berlimpah (abundance). Setiap data akan melesat dan terpoliferasi secara eksponensial berpangkat-pangkat dengan cepat. Sebuah berita tergandakan dalam hitungan detik untuk memenuhi ruang data maya. Oleh karenanya kita bangkit bersama untuk berlomba-lomba memasuki ruang data. Kita tak boleh hanya pengguna data belaka, janganlah menjadi user tapi haruslah menjadi  maker, kita harus berani menempati salah satu singgasana sebagai tahta sang pembuat data.
    Ayo kita bangkit, penuhi ruang data dengan berbagai laporan aktivitas kita, penuhi ruang data dengan prestasi kita, laporkan semua yang ada, lepas semua SOP yang kita punyai lalu antarkan ke dunia maya, agar semua yang kita buat terus melesat.
   Buku buku yang kita kreasi tak boleh hanya tidur dalam almari, seharusnya teresensi, karya penelitian kita tak boleh diam hanya menggugurkan kewajiban, lalu tak pernah muncul di altar maya.     
    Ayo bangkit manfaatkan aplikasi nirbayar sebagai wadah karya, jangan ragu  mempertontonkan kepiawaian untuk masyarakat dengan tidak berlaku jumawah. Bangkitlah dengan semangat pagi kita dalam cita kebersamaan satu Adi Buana.
        

Saturday, April 14, 2018

BUKU TAMU ALA UNIVERSITAS ADI BUANA


Surabaya 13 April 2018
BUKU TAMU SEMANGAT PAGI ALA UNIVERSITAS ADI BUANA
Oleh Djoko Adi Walujo
       Pagi itu datang seorang pejabat Kemenristekdikti ke Kampus kami, langsung kami terima di taman kampus. Tepatnya kami terima di Taman Wolu, sebuah taman yang sangat sederhana dengan tempat duduk dari batu alam. Tentu tak seperti biasanya, seorang pejabat itu selalu diterima di ruang VIP Room yang sejuk karena kuatnya air condition yang sejak pagi buta sengaja dinyalakan. Tapi pagi itu nampak sang Tamu Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M.Eng.Sc merasa nyaman dengan gaya penyambutan kami. Sembari menikmati suguhan ala desa dengan menyeruput kopi rasanya menambah hangat dan akrabnya perbicangan kami. Memang kampus semangat pagi punya hajat mengundang beliau untuk memaparkan informasi aktual berkaitan hadirnya sebuah zaman yang dipenuhi atmosfir cybernetic. Revolusi Era Industri 4.0 demikian tajuk yang akan dibicarakan.  Saat itu beliau diantar oleh sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah VII, Dr. Widyo Winarso, M.Pd.
      Kedatangan tamu terhormat seperti Pak Patdono, apalagi beliau adalah seorang Pejabat Direktur Kelembagaan tentu biasanya prosesi pertama adalah mengisi buku tamu. Barangkali saat hadir beliau kaget, mengapa Universitas Adi Buana Surabaya yang masuk diposisi 100 besar Perguruan Tinggi di Indonesia itu,  justru tidak nampak memperlihatkan keadministrasian yang benar? Tentu asumsi itu ada.  Memang Universitas Adi Buana tidak menyediakan buku tamu, namun kampus yang berjuluk kampus semangat pagi ini, menyediakan buku tamu alam. Sebuah buku tamu yang abadi, dengan dokumentasi alami, yang tahan terhadap panas dan hujan, serta tahan dari cuaca apapun. Buku Tamu Alam itu, semakin lama semakin indah dan memikat, bahkan akan menempel kuat di long trem memory. Lalu bagaimana buku tamu alam itu bentuknya?
Buku tamu alam adalah gaya khas kami, mungkin unik kendati melanggar kebiasaan, setiap Tamu Agung kami dimohon menuliskan kehadiranya dengan menanam pohon atau sekedar memasang papan yang tertulis namanya pada pohon yang telah ada di kampus kami. Inilah yang menjadi bagian dari tradisi kampus kami, mengajak tamu menghijaukan lingkungan, sehingga seorang tamu akan berkontribusi sepanjang masa berupa hijaunya alam serta menghadirkan oksigen (O2) sebanyak 1/2 Kg/Hari/Pohon. Bagi kami seorang tamu akan mereduksi hadirnya Karbondioksida (CO2) 14 Kg/Tahun. Itulah yang kami lakukan sebagai praksis Visi Universitas kami yang Peduli, Amanah, Gigih dan Inovasi.  
       
          

Friday, March 16, 2018

PARA PEMBURU HIBAH PENELITIAN

Fenomena Pemburu Hibah Penelitian : sebuah opini
Oleh : Djoko Adi Walujo

Kini pemerintah sedang menumpahkan ambisi sehatnya, ingin para dosen meningkatkan kinerja akademinya melalui berbagai bentuk penelitian ilmiah dan tetunnya dikaitkan dengan artikel ilmiah sebagai out put medium dan produk akhirnya berupa buku teks, buku ajar, atau referensi lainnya. Para dosen semangatnya dipompa habis, semua model motivasi dicurahkan, berbagai wahana dibuat, bahkan payung hukum beserta rule of conduct tertata rapi guna menunjang keinginan itu.  Berbagai skema dibuat dengan tarif yang sangat jelas. Bahkan semua dosen merespon dengan gegap gemita, entah karena tergiur oleh tuntutan akademik atau sedang melakukan amanah profesi, atau yang lain. Mungkin dosen menganggap bahwa riset dipandang secara filosofis untuk membangun kompetensi, karena dengan riset akan menguatkan ranah keahlian (expertise) sekaligus meneguhkan tanggung jawab ilmiah. Namun tentu juga akan melahirkan sikap yang lain, riset dianggap ladang baru yang digunakan mengisi pundi pundi penebal dompet belaka. Dampak inilah yang tentunya merupakan sikap yang jauh dari kompetensi akademis maupun kompetensi personal. Hal ini jika terjadi maka ambisi sehat yang dilakukan pemerintah akan gagal justru akan menumbuhkan pemburu-pemburu hibah penelitian yang meninggalkan norma kepatutan.

Capaian lumayan pemerintah:
Data menunjukkan ketika motivasi diberikan kepada dosen, yang terjadi secara signifikan adalah semakin tumbuh suburkan secara kuantita dan kualita dosen meneliti. Kini bahkan capaian penulisan artikel tingkatan mendunia juga tersentuh dengan masif oleh para dosen. Thomson dan Scopus dulu merupakan barang langka ini sudah hal yang biasa. Proceeding yang memiliki reputasi dengan berbagai macam indeks dan pengakuan sudah menjadi makanan sehari hari.
Kementerian juga melakukan motivasi canggih bak arena pertandingan dengan melucurkan SINTA, setiap mata dan telinga diajak menjadi wasit adil kinerja penelitian. Sinta bagaikan indek di bursa efek, sitasi dan dokumen artikel setiap hari diperlobakan. Top 200 Affiliation menjadi ajang tanding, itupun masih ditambah dengan Top 50 Author yang sengaja memasang kinerja pribadi dosen. Inilah suatu capaian yang teruji.

Perguruan Tinggi memasang AKSI
Nampaknya ‘bursa efek kinerja ilmiah’ yang kenal dengan SINTA juga melahirkan kompetisi antar perguruan tinggi.  Janji janji bahkan ada yang dijadikan regulasi, bahwa dosen yang mempunyai kinerja penelitian atau penulis ilmiah akan mendapatkan bonus layaknya  seorang atlet yang baru saja menggodol medali. Kalau semuanya merupakan kegiatan yang menjunjung hakikat keilmuan, maka kita semua wajib hukumnya ancungkan dua jempol, namun jika hanya melahirkan pemburu hibah, maka tujuan mulia justru terbalik menjadi tujuan murka.

Ring Hakikat
Sejatinya kinerja akademi berupa riset dan penulisan artikel adalah sarana penajam profesionalisasi sekaligus penanda spsialisasi seorang dosen sebagai kompetensinya. Hakikatnya seorang orang dosen melakukan riset akan digunakan dalam pembelajaran, sekaligus untuk memperkuat kualitas pembelajaran. Semua hasil kinerja tadi akan menjadi sebuah produk kinerja yang utuh dan terintegrasi. Hasil riset difungsikan untuk peningkatan mutu ajar, lalu berlanjut terdokumentasi sebagai karya dalam bentuk artikel ilmiah yang dipublikasikan. Hasil riset juga dapat digunakan sebaga model utama lahirnya buku ajar. Ingat sebuah adigium yang mengatakan, bahwa buku ajar yang baik adalah buku ajar yang dibuat oleh dosennya. Lalu jika hasil riset berpotensi di-patenkan, maka akan mendatangkan dua manfaat, satu meningkatkan reputasi diri, namun jika dihilirisasi menhadirkan uang tidak terbilang.

            Semoga ambisi sehat kemenristekdikti memang menghasilkan profesionalisme, dan bangkitkan anak bangsa bertarung karena abilitynya bukan hanya mendorong lahirnya seorang dosen pemburu hibah yang rela kehilangan jatidirinya.

Friday, November 3, 2017

Aplikasi Kebangsaan dalam Prespektif masa depan Untuk jasa pahlawan



Aplikasi Kebangsaan dalam Prespektif masa depan
Untuk jasa pahlawan
Disampaikan pada kegiatan
MEMATRI JIWA GENERASI MUDA MENERUSKAN CITA
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur
oleh
Dr. H. Djoko Adi Walujo,S.T.,MM*)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai jasa para pahlawannya. Kalimat bijak ini acapkali kita dengar,bahkan diucapkan orang banyak atau terpapas masal di Koran  majalah dan media elektronik lainnya.Frekuensinya lebih dahsyat ketika mendekati detik-detik peringatan hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 Nopember. Tanggal tersebut kini ditetapkan sebagai hari Pahlawan untuk mengenang pertempuran heroik arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu.Dari penghelatan  Yang hebat itu, menyadarkan kita semua untuk menanyakan kembali disetiap hati sanubari kita, utamanya pada generasi muda: “Apakah bangsa ini telah mengambil prakarsa cerdas dalam menghargai jasa para pahlawannya?”, lalu bagaimanakah cara mengaplikasikannya di masa depan?
           Pada hakikatnya dalam hidup dan kehidupan berbangsa, kita memerlukan hadirnya pahlawan-pahlawan. Keberadaannya menjadi semakin mengental bahkan dapat dinyatakan sebagai kebutuhan kultural masyarakat. Kehadirannya dalam masyarakat dirindukan, apalagi seiring dengan perjumpaan bangsa dengan zaman yang mengglobal ini. Pahlawan adalah ikon “exempla” (keteladanan) bukan ikon “verba” (sebuah kata-kata), karena ia merupakan sosok teladan yang menjadi sumber inspirasi bagi generasi lintas zaman. Semangatnya  pantang menyerah, rela berkorban, cinta tanah air, ketegaran hati, bahkan tak pernah mengalkulasi untung rugi adalah sebagian dari nilai-nilai yang terpatri dan melekat kuat pada diri sosok pahlawan.
Bagaimanakah kita mengapresiasi Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tanggal 10 November saat ini? Kemudian bagaikama kita mengplikasikan di masa depan? Tentu jika dicermati banyak model atau cara yang dapat dilaksanakan, terutama ketika kita berhasrat mewujudkan niatan yang bermanfaat kepusaran  kemajuan yang tertuju pada kemandirian bangsa ini. Peringatan Hari Pahlawan jelas bukan hanya sekadar mengingat jasa-jasa para pahlawan kita yang gugur di medan laga,  tetapi lebih dalam dari hanya perenungan belaka. Bangsa ini harus investasi kesadaran baru yang mengarah kepada sebuah solusi bagaimana pemimpin bangsa ini mengajak rakyatnya mengisi kemerdekaan dalam berbagai bidang kehidupan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Tentu ada yang harus dikedepankan yakni pola pikir dan sikap kita, jangan sampai terlambat, bangsa dan negara ini dalam memberikan apresiasi itu. Meskipun tak jarang, kita sering terlambat dalam menilai kebaikan atau prestasi seseorang semasa hidupnya. Sering kita jumpai, apresiasi, ucapan simpati, atau pengakuan prestasi berduyun-duyun diberikan baru setelah orang tersebut telah ‘tak bersama kita lagi’. Padahal semasa hidupnya, kita seakan lupa akan jasa-jasanya. Jangan sampai kita sibuk mengungkapkan penghargaan, saat yang bersangkutan sudah tidak dapat merasakan apa yang kita berikan.
Tentu yang diapresiasi akan lebih bangga dan terhormat jika mereka bisa mengetahui dan merasakan bentuk apresiasi yang kita berikan. Walau kita juga sama-sama tahu, orang-orang yang tulus ikhlas seperti pahlawan dan para guru bangsa kita, tentu tak gila dengan puja, dan tak terbuai denagn apresiasi serta penilaian yang diberikan orang.
Namun alangkah lebih bijak jika kita menghargai atau memberi apresiasi saat yang punya prastasi masih bisa dengan nyata menerima dan merasakannya. Setidaknya, ketokohan dan segala keteladanan-nya dapat diturunkan dan dijadikan pembelajaran untuk kelak kita terapkan demi pembangunan kehidupan negara tercinta kita.
GERERASI MUDA BERBICARA TENTANG PAHLAWANNYA
“MENGHARGAI PAHLAWAN”
(Seperti yang ditawarkan Anne Adriani S. dalam blognya)
Catatan:
Berikut sebuah tulisan yang diunduh dari blog – Anne Adriani S, seorang-orang yang usianya masih remaja. Menuangkan gagasannya terkait dengan model dan cara menghargai pahlawan. Dengan gaya penuturannya yang lugas, dan gaya penulisan diusianya.
Anne menawarkan gagasan menghargai pahlawan sebagai berikut:


  1. Mengisi Kemerdekaan Indonesia dengan hal-hal yang positif.

Oke admin jelasin sedikit deh dibagian ini, jadi kita itu mesti mengisi kemerdekaan Indonesia itu dengan hal-hal yang bermanfaat bukan tawuran seperti yang sebagian dilakukan oleh mahasiswa dan pelajar itu lhoh, gak patut dicontoh banget! Malu-maluin! Para pahlawan kan perang demi membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan lah ini tawuran? Itu kan malah merusak persatuan dan kesatuan bangsa! Menganggu banget tuh dalam hal kerukunan!. Masih banyak hal positif yang bisa kita kerjakan untuk mengisi kemerdekaan NKRI.

  1. Kita anak muda sebagai generasi penerus bangsa harus belajar sebagai mestinya.

Bagian ini pasti deh kalian mengerti. Jadi hayooo yang sekolahnya masih malas-malasan dan main-main sekarang harus lebih seurius. Main-main sih boleh ya kalau sekedar untuk mencairkan suasana belajar biar gak jenuh tapi jangan berlebihan.

  1. Selalu menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dengan cara saling menghargai dan toleransi dalam setiap perbedaan.

Jadi dalam point ini kita harus mengingat kembali nih atau ceritanya mesti flashback ke semboyan negara kita yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Keren banget kan tuh sekeren persebaran budaya-budaya Indonesia yang berbeda namun tetap kece dengan ciri khasnya masing-masing.Kalian kan tahu negara kita majemuk dalam berbagai hal.


  1. Turut ikut serta dan berapartisipasi dalam memperingati Hari-hari besar Negara.

Itu lhoh biasanya kan kalau hari besar suka diadakan Upacara. Gak usah melayang kemana-mana dulu deh ambil contoh di lingkup lingkungan sekolah aja. Setiap Hari Senin pagi sebelum masuk kelas kan rutinitasnya melaksanakan Kegiatan Upacara Bendera tuh, nah kita dalam melaksanakan upacara itu mesti disiplin jangan mengobrol, bercanda dan melakukan hal lain yang dapat mengannggu berlangsungnya upacara. Menurut survei pengamatan dan pengalaman admin sendiri nih banyak para murid yang malas melaksanakan upacara bendera kebanyakan mereka suka pura-pura sakit terus pergi ke UKS. Hal itu jangan dicontoh ya!. Padahalkan kedisiplinan dan ketertiban saat upacara bisa jadi tolak ukut rasa patriotisme dan nasionalisme kita.



  1. Mengamalkan isi dari Pancasila dan UUD 1945.

Admin gak bisa jabarin dan menjalaskan satu satu tuh.Soalnya hal positif dalam kandungan Pancasila banyak banget. Dan itu berfungsi demi menciptakan keamanan dan ketertiban negara.
*Yang beragama Islam jangan lupa juga yah mengamalkan isi Al-Qur’an dan Hadist jugamueheehe :D

  1. Menghidari pergaulan bebas yang menjurus ke hal-hal negatif.

Waaah ini nih point yang sekarang mulai merajalela merasuki generasi muda jaman sekarang. Kita sebagai manusia harus bisa memimpin diri sendiri untuk mengarahkan diri kita ke arah jalan yang benar. Sekarang banyak terdapat geng geng motor yang anarkis yang beranggotakan para pelajar dan pemuda. Dan yang lebih gawat lagi sekarang banyak generasi bangsa yang terjerumus kecanduan mengkonsumsi narkoba dan minuman keras. Waaaaahhh miris banget. Kalau generasi mudanya pada rusak siapa dong yang mau melanjutkan tangku kepemimpinan bangsa kita tercinta ini. Mending kayak mimin nih yang punya rencana bikin geng anak jenius Indonesia :p
Sebenarnya masih banyak hal-hal yang dari kecil hingga besar untuk menghargai jasa para pahlawan. Dari ke 6 point di atas kita bisa menghargai jasa pahlawan kita yang rela mengorbankan harta benda dan nyawa demi negara kita.Jadi apabila kita mulai melaksanakan point diatas jadi kesannya perjuangan para pahlawan itu tidak sia-sia, kalau di sunda mah teu cape gawe teu kapake gitu :p.Semoga kita semua menjadi generasti penerus bangsa yang baik yang dapat mengharumkan nama bangsa Indonesia di dunia.Aamiin.

CARA MENGHORMATI JASA PAHLAWANNYA
Tulisan berikut diunduh dari internet tepatnya di alamat: http://aprilyakamis.wordpress.com
Karya Ajat M Fajar-okezone.
Berupa point-point bagaimana menghargai pahlawan dengan mengisi kemerdekaan. Kalimat atau penuturan tulisan sesuai dengan aslinya
Beberapa Cara Untuk Mengisi Kemerdekaan Indonesia Yang Baik :
1.       Belajar dengan baik bagi pelajar dan mahasiswa serta bekerja dengan baik bagi yang sudah bekerja lagi halal.
2.      Menjaga keamanan dan ketertiban nasional dari segala bentuk ancaman pihak dalam maupun luar.
3.      Menjalankan pancasila, peraturan perundang-undangan yang berlaku, aturan agama, serta budaya dalam masyarakat dengan baik dan benar.
4.      Saling menghormati dan menghargai sesama anggota masyarakat dengan menerapkan musyawarah mufakat, tepo seliro, gotong royong, toleransi, dan lain sebagainya.
5.      Mencintai produk dalam negeri dengan menggunakan dan mengembangkan hasil produksi dalam negeri daripada produk luar negeri.
6.      Tidak melakukan perbuatan sia-sia yang tidak memberi manfaat seperti begadang, hura-hura, madat, tawuran, dugem, clubbing, nongkrong di mall, melakukan tindak kenakalan, dan lain sebagainya.
7.      Rela berkorban dalam bela negara ketika kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia diinjak-injak bangsa asing.
8.     Memupuk semangat untuk maju dan menyetarakan diri dari bangsa-bangsa yang telah maju dengan cara-cara yang baik demi terciptanya tujuan nasional seperti kesejahteraan rakyat dan terciptanya kedamaian di dunia.
9.      Berperan aktif dalam pembangunan negara dan daerah lingkungan sekitar serta menjaga kondisi tersebut tetap dalam kondisi yang baik.
10.  Serius dalam melaksanakan peringatan kemerdekaan dan juga dalam mengikuti mengheningkan cipta untuk menghormati jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Tak lupa berikan doa kepada para pahlawan agar Tuhan Yang Maha Esa menerima mereka di sisiNya.
SIMPULAN: PERSPEKTIF KE DEPAN   
       Dari paparan yang dibentang diatas dapat disimpulkan bahwa menghargai pahlawan tidak hanya mengenang dan sekedar merenung tapi lebih diarahkan bagaimana melaukan “maintenamce” merawat hasil hasil perjuangan. Bertidak cerdas dengan mengerahkan segenap kemampuan. Kemampuan yang dimaksud adalah:
  1. Kemampuan bangsa dalam melihat fakta yang ada (ability to fact). Bangsa ini harus sadar bahwa lahir karena perjuangan para pahlawannya. Berlaku semena-mena dan melupakah sejarah adalah bentuk pengkhianatan fakta. Sehingga dapat menumpulkan perjuangan ke masa depan.
  2. Kemampuan bangsa dalam bertindak dan berpikir harus menjunjung dasar-dasar pengetahuan (ability to basic knowledge). Tanpa didasari dengan ilmu pengetahuan kita, maka akan membawa cenderungan yang bersifat sintementil dalam menghargai pahlawannya.
  3. Kemampuan bangsa dalam mengevaluasi perjuangan para pahlawannya (ability to evaluation). Setiap pekerjaan mulai harus mampu dievaluasi, dicermati dari berbagai dimensi, mulai dari etika, hingg etistika. Semua perjuangan harus mampu dipertanggungjawabkan. Menerima koreksi, kritik atau argumen yang berbeda adalah keniscayaan. Dengan demikian bangsa ini tidak gegabah dalam bertindak.
  4.  Kemampuan  bangsa dalam menganalisa gerak perjuangan (ablity to analysis). Bangsa ini dituntut untuk melakukan analisa terhadap segela sesuatu yang diakan dihadapi, sehingga setiap langkah yang diambil akan memiliki nilai-nilai starategi bagi kemajuan dimasa mendatang.

RUJUKAN YANG DIGUNAKAN


Djoko Adi Walujo  [2005]. Pendidikan Kewarnegaraan untuk korikulum berbasis kompetensi : Penerbit Karya Mitra Surabaya
______________[2011]. Problema  anarkhis dikalangan generasi muda disampakaikan pada :Rapat koordinasi implmentasi kebijakan kepemudaan
______________[2012]. Dinamika Masyarakat dalam mempersepsikan PPKN dengan Pendidikan Wawasan Kebangsaan (Suatu Tinjuan Kompilatif). Disampaikan Lokakarya Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila, Rasa Cinta Tanah Air, Kesadaran Bela Negara dan Berkonstitusi    -    Badan Kesatuan Bangsa dan Politik  Provinsi Jawa Timur.
* djoko adi walujo: Adalah Alumni Universitas Negeri Surabaya (UNESA- Dahulu IKIP SURABAYA), doctor business administration di JOSÈRIZAL UNIVERSITY OF PHILIPPINA, Salah satu anggota dewan pendidikan propinsi jawa timur, mantan anggota dewan Pembina perpustakaan masjid propinsi jawa timur, mantan wakil ketua PGRI propinsi jawa timur, mantan Gugus Pemikir Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP-PGRI) pusat, sekretaris ISPI- Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia propinsi jawa timur, sekretaris badan penyelenggara Universitas Adi Buana Surabaya,. Memiliki International Certificated untuk pelatihan guru-guru zone Asia-Pacific (EI-Edication International), Certificate “Leadership in Higher Education” – University Technolofy of Sydney-Australia