Google

Monday, March 23, 2015

GURU INSPIRATIF

KLIK DI SINI (Guru Inspiratif)
Silakan Klik Gambar akan dapat dilihat Tayangan Guru Inspiratif

Friday, January 2, 2015

KAPTEN PILOT IRIYANTO, ADALAH SARJANA EKONOMI

Banyak yang belum mengetahui lebih dalam sosok Kapten Pilot Iriyanto yang naas itu, ternyata disamping seorang Pilot yang lulus terbaik, dia juga Sarjana Ekonomi.
Iriyanto disela kesibukaannya masih sempat menyelesaikan studinya di Universitas Adi Buana Surabaya. Dia menamatkan studinya pada tanggal 31 Mei 2003, kemudian wisuda tanggal 16 Juni 2003. Ketika wisuda didampingi isteri tercinta. Wisuda yang diikuti oleh Kapten Pilot Iriyanto itu bertepatan dengan Dies Natalis Universitas Adibuana Surabaya ke XXXII. 
Sedangkan judul skripsi yang dipilih mejandi karyanya adalah : '"Pengaruh Komunikasi, Koordinasi dan Pengambilan Keputusan Terhadap Kinerja Karyawan RSI Siti Khotijah Sidoarjo". Ketika menyusun skripsi di bimbimbing oleh, Drs,H. Teguh Purwanto, SE.MM.
     Saat kuliah menutup rapat-rapat kalau sejatinya adalah seorang pilot Pesawat Fighter, dan mantan seorang Letnan Satu TNI AU,  nampak sederhana, dan sangat hati hati. 

Tuesday, September 2, 2014

PERANAN TIK & DAMPAKNYA BAGI ANAK



PERANAN TIK
&
DAMPAKNYA BAGI ANAK
 djoko Aw*)
di sampaikan pada:
SEMINAR PENDIDIKAN
UPT TEKNODIK
DINAS PENDIDIKAN PROPINSI JAWA TIMUR

Pengantar:
Perkembangan teknologi informasi Komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran . Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan  TI ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan  dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Inilah adalah dampak positif dari TIK, namun sisi lain secara bersamaan muncul pula dampak negatifnya, yang kapasitas pengaruhnya tak berbilang besarnya.  
Teknologi Informasi dan Komunikasi memungkinkan anak-anak menjelajah kemana-mana, ke wilayah yang yang luas tanpa batas, bahkan menyeruak ke wilayah yang “Probhibited” ( wilayah larangan bagi anak). Ditambah derngan sifat anak anak yang serba ingin mencoba dan ingin tahu secara mendalam (curiosity). Jelajah tanpa pengawasan sejatinya memberikan kebebasan memungkinkan anak mendapatkan informasi yang begitu berlimpah, namun kantong-kantong otak tidak terasa juga menabung hal-hal yang bersifat negatif. Citarasa sosial anak akan berubah, yang biasanya berbagi nilai-nilai kebaikan menjadi penyebar nilai keburukan, dan terpolarisasi sangat cepat. Dan secara mendalam menjadikan sebuah kebiasaan yang memungkinkan berpengaruh di ranah psikologisnya.

TEKNOLOGI HADIR DENGAN PLUS MINUSNYA

Teknologi sebagai anak kandung ilmu pengetahuan, hadir secara netral,
tergantung siapa yang menggunakannya
(Albert Einstein)
       Kehadiran teknologi yang semula adalah semata-mata ditujukan untuk membantu meringankan beban manusia dalam mengarungi hidupnya, ternyata membawa dampak pada kehidupan psikologis, sosial, bahkan pada ranah yang memudarkan etika manusia. Hal ini telah dirasakan oleh Albert Nobel, ketika atoom yang ditujukan untuk kemaslahatan manusia kini berubah menjadi musuh manusia, karena penggunaan yang salah. Atoom ternyata dapat  berubah menjadi alat pembasmi manusia. Tak terhitung jumlahnya, bahkan ribu hingga juta manusia dapat binasa dalam kurun waktu yang sangat cepat. Renungan Albert Nobel itu lahir setelah melihat kedahsyatnya teknologi, namun disisi yang berbeda mendatangkan malapetaka hebat. Inilah sebuah kata kunci (keyword) yang harus dipegang oleh semua orang, utamanya para ulama, pendidik, politisi bahkan para birokrat untuk melihat cermat dapak buruk teknologi.
       Terdapat tiga model orang memandang dan menggunakan teknologi, yakni, technophilia, technomania dan technophobia.
  • Technophilia, adalah pola sikap manusia dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi atas dasar pemikiran yang rasional dan cermat. Dalam memanfaatkan selalu mempertimbangkan dampak buruknya. Bahkan technophilia mengatarkan manusia untuk sadar bahwa teknologi selalu membawa dampak buruk apapun canggihnya teknologi. Dampak buruk teknologi kadang tidak sebanding dengan dampak kebaikkannya. Dikaitkan dengan pemanfaatan (TIK), maka jika kita menggunakannya harus berhitung secara cermat bernagai kemungkinan dampak negatif yang timbul.
  • Technomania, adalah pola sikap dalam menggunakan teknologi tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya. Secara membabi buta, bahkan mengabaikan ruang waktu, ruang etika, bahkan penggunaan teknologi hanya digunakan untuk pemuasan kebutuhan  sesaat. Berpikir yang pendek (shortcut), dan cenderung  individualistik nyaris hadir bersama dalam ranah technomania. Terkait dengan pemanfaatan (TIK) maka harus ada upaya cerdas untuk mencermaati keadaan ini. Guru tidak hanya fasilitator materi, tetapi harus berperan sebagai filter, yang menyaring situs-situs prohibbited secara hati-hati dan tidak diketahui siswa.
  • Tecnophobia, adalah pola sikap yang harus dihindari dalam dunia pendidikan. Pola ini menggambarkan sebuah sikap yang menjauhi teknologi. Dalam technophobia tergambarkan sebuah pola sikap yang menentang hadirnya teknologi, selalu berprasangka negatif terhadap terknologi. Pertimbangan yang digunakan, biasannya adalah sebuah kepercayaan atau nilai-nilai yang menggangaap bahwa teknologi selalu menghacurkan kehidupan manusia. Dikaitkan dengan pemanfaatan TIK, maka jika hal ini terjadi akan menimbulkan terkungkungnya infomasi, bahkan akan cenderung tertutup terhadap perkembangan teknologi.

DAMPAK TECNOMANIA  PADA PENGGUNAAN TIK
          Teknologi Komunikasi dan Informasi atau yang kita kenal dengan TIK, sesungguhnya hadir membawa kemajuan yang sangat luar biasa. Dengan cepat merubah lingkungan menjadi tak terbatas (unlimitted), tiada batas (non borderline), kecepatan informasi yang cepat (speed), ukuran yang bermacam-macam (size) dll. Kenyataan memungkinkan perkembangan  informasi  bersifat universal dan komunal, apa yang terjadi saat ini disuatu benua dan tersiar dalam hitungan detik ke benua lain. Informasi bukan menopoli negara tertentu, infomasi dari kota yang modern seperti New York Amerika serikat, secara bersamaan akan di miliki oleh anak-anak Desa Bremi kabupaten Probolinggo. Gambar-gambar yang sedang diminati oleh anak-anak Pondok Pesantern Genggong Probolinggo, secara bersamaan juga dinikmati anak-anak Quezon City- Manila Philippina. Hal ini menunjukkan bahwa informasi tidak mungkin dibendung, menggunakan filter apapun. Kemudian dampak lain yang terjidi dapat berupa dampak  Kesehatan, Psikologis, Sosiologis (sosial, etika, seksual dll)

SEDIKIT CATATAN TENTANG KONSEP  BIOPSIKOSOSIAL
Catatan ini dimaksudkan agar tidak menggangu dalam pembahasan makalah ini. Terkait dengan judul “Peranan TIK Dalam Pekembangan BIOPSIKOSOSIALSEKSUAL ANAK. Sejatinya konsep ini berakar dari konsep BIOPSIKOSOAL yang dikembangkan menjadi BIOPSIKOSOSIOSEKSUAL, dan terminologi Biopsikososial ini akrab di ranah kesehatan mental. Konsep terbentang pada box berikut:



Rounded Rectangle: Konsep biopsikososial memberikan suatu gambaran yang menyeluruh tentang munculnya suatu kondisi sakit yang dihubungkan dengan faktor lingkungan dan stres yang terkait di dalamnya. Kondisi lingkungan, dalam hal ini dukungan sosial, dapat juga memberikan perbaikan kondisi. Salah satu contoh penerapan konsep tersebut adalah ilmu kedokteran jiwa.
Kondisi kesehatan jiwa seseorang dapat dilihat sebagai suatu keadaan yang melibatkan faktor biologis, psikologis, dan sosial orang tersebut. Secara biologis, gangguan pada kondisi kesehatan jiwa seseorang diakibatkan karena ketidakseimbangan sistem hormon dan neurotransmiter di otak. Secara psikologis, gangguan kondisi kesehatan jiwa disebabkan oleh mekanisme adaptasi psikis individu yang tidak bekerja dengan baik. Sementara, secara sosial, kondisi gangguan kesehatan jiwa dapat dipicu oleh lingkungan yang tidak nyaman, serta penuh dengan tekanan dan ketakutan.
 




















DAMPAK TIK TERHADAP  BIOPSIKOSOSIOSEKSUAL:
Tidak hanya melarang, tapi harus ada skenario yang cerdas mengalihkan rasa ingin tahu siswa (transferred of curiosity)
(Anonim)

DAMPAK PADA BIOPSIKO:
  • Kondisi Psikologis dan Kesehatan,  kesehatan adalah hal penting, sehat itu mahal, sehatlah sebelum sakit. Kedua kalimat yang umum didengar. Lantas apa hubungannya dengan facebook? Kesehatan bisa menjadi faktor dari dampak negatif Facebook. Duduk berlama-lama memperhatikan beranda Facebook, memberi jempol pada status yang dirasa bagus serta mengunggah foto-foto adalah kegiatan rutin para pemakai Facebook. Memang ada beberapa pengguna Facebook yang pasif tapi tidak sedikit pula yang sampai betah seharian berada pada kondisi “dalam keadaan jaringan”. Kegiatan semacam itu tentu tidak baik dan sangat mengganggu kesehatan. Banyak ahli berpendapat bahwa akhir-akhir ini, masalah kesehatan semacam obesitas, gangguan pencernaan, serta menurunnya kualitas penglihatan disebabkan karena kegiatan bermain komputer yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan kegiatan berolahraga[1].
  • Rusaknya performa mental, kecanduan situs jejaring sosial seperti Facebook atau MySpace juga bisa membahayakan kesehatan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri. Meningkatnya pengisolasian diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respons kekebalan, level hormon, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental[2].
  • Kerusakan Fisik, kerusakan fisik juga sangat mungkin terjadi. Bila menggunakan mouse atau memencet keypad ponsel selama berjam-jam setiap hari, seseorang dapat mengalami cedera tekanan yang berulang-ulang. Penyakit punggung juga merupakan hal yang umum terjadi, pada orang-orang yang menghabiskan banyak waktu duduk di depan meja komputer.
  • Media elektronik, seperti komputer, laptop, atau handphone (ponsel) juga menghancurkan secara perlahan-lahan kemampuan anak-anak dan kalangan dewasa muda untuk mempelajari kemampuan sosial dan membaca bahasa tubuh. Maksudnya adalah seseorang akan mengalami pengurangan interaksi dengan sesama mereka dalam jumlah menit per hari-nya menyebabkan jumlah orang yang tidak dapat diajak berdiskusi mengenai masalah penting, menjadi semakin meningkat setiap harinya.

DAMPAK PADA SOSIOSEKSUAL:
·    Interkasi Sosial tereduksi, terkuranginya sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face).
·      Pola Masyarajkat berubah, dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi. Sepertihalnya jika menggunakan Facebook (dampak negatif Facebook yang paling umum adalah permasalahan sosial bagi si pecandu. Sifatnya yang adiktif membuat orang kadang lupa dengan kehidupan yang sebenarnya, kehidupan di sekelilingnya. Contohnya saja, dapat ditemui di tempat keramaian, sekolah, angkutan umum, dan sebagainya, ada orang yang tampak lebih asyik dengan gadget-nya. Bisa saja orang tersebut sedang update status dan saling komentar tanpa mempedulikan lingkungan di sekitarnya. Tentu ini akan mengurangi kemampuan interaksi sosial si orang tersebut. apalagi tidak sedikit ditemui bahwa anak-anak sekarang lebih asyik bermain Facebook dibandingkan ia bermain petak umpat di luar. Tentu hal ini cukup mengganggu bagi perkembangan anak dalam perkembangan sosialnya. Masalah sosial lain yang ditimbulkan oleh dampak negatif Facebook adalah masalah yang menyangkut orang banyak Di Facebook, siapapun dapat menulis tentang apapun. Bagi perusahaan komersil, Facebook mungkin jadi sarana dalam mempromosikan produk/jasanya. Hanya sayang, bebasnya menulis status itu bisa menimbulkan masalah-masalah yang ujung-ujungnya harus berhadapan dengan hukum. Tentu masih ingat ketika di Facebook muncul Gerakan Koin Peduli. Gerakan tersebut ditujukan untuk membela seseorang yang karena hanya nama baik sebuah instansi berimbas pada penuntutan uang yang jumlahnya sangat besar. Tidak lama kemudian muncul seorang polisi di Sumetera Utara yang menulis status bahwa polisi tidak butuh masyarakat. Karena statusnya ini, banyak masyarakat yang sakit hati dan ramai-ramai mencaci polisi tersebut[3].
·      Menipu, kejahatan seperti menipu dan mencuri dapat dilakukan di internet (kejahatan juga ikut berkembang).
·      Maraknya Pornografi, internet dapat membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut[4].Anak-anak paling berisiko ketika mereka berulang kali terpapar gambar yang overstimulating dan berpotensi adiktif. Jika dilihat kompulsif dan disertai dengan pelepasan seksual melalui masturbasi, pornografi Internet dapat memiliki efek desensitizing, membutuhkan intensitas yang lebih besar dan frekuensi serta menyebabkan seksualitas menyimpang tampak seperti norma.
·      Bahaya On-line: bahaya online adalah ajakan seksual yang tidak diinginkan. Remaja yang paling rentan dari setiap kelompok umur sedemikian seksual yang tidak diinginkan (Wolak et al., 2006). Satu dalam 7 remaja dilaporkan telah mengalami provokasi yang tidak diinginkan – yang sebagian besar terlibat undangan untuk bertemu offline, meminta remaja untuk berbicara tentang seks atau menjawab pertanyaan seksual, atau meminta remaja untuk foto seksual eksplisit (Wolak et al., 2006). Sebuah bahaya terkait untuk remaja online melibatkan “sexting” – mengirimkan foto eksplisit secara seksual biasanya melalui telepon seluler atau kadang-kadang melalui Internet. Sexting ini paling sering terlibat dalam oleh remaja dengan teman-temannya dan biasanya melibatkan tekanan teman sebaya. Sexting sering menciptakan harapan “hooking up” (seks) pada bagian penerima, dan meningkatkan tekanan untuk melakukan seks, dan kemungkinan hal itu terjadi, selama pertemuan berikutnya. Sexting berisiko dengan cara ini dan, juga, karena sering menyebabkan bencana reputasi tak terduga yang mungkin tidak dapat diperbaiki. Hal ini sering dimulai dengan foto yang dikirimkan ke pacar atau pacar potensial, yang kemudian – tanpa sepengetahuan pengirim – yang lulus sekitar dan diteruskan ke teman-teman penerima dan “kontak,” seperti surat berantai penyebaran lepas kendali. Selain itu, foto-foto ini bisa muncul lagi di kemudian hari dan digunakan untuk pemerasan atau untuk melampiaskan malapetaka di karir seseorang[5].


SIMPULAN
Dampak TIK terkait dengan  jejaring sosial
1.       Anak dan remaja menjadi malas belajar berkomunikasi di dunia nyata. Tingkat pemahaman bahasa pun menjadi terganggu. Jika anak terlalu banyak berkomunikasi di dunia maya, maka pengetahuan tentang seluk beluk berkomunikasi di kehidupan nyata, seperti bahas tubuh dan nada suara, menjadi berkurang.
2.       Situs jejaring social akan membuat anak dan remaja lebih mementingkan diri sendiri. Mereka menjadi tidak sadar akan lingkungan sekitar mereka, karena kebanyakan menghabiskan waktu di internet. Hal ini dapat mengakibatkan anak menjadi kurang berempati di dunia nyata.
3.       Bagi anak dan remaja, tidak ada aturan ejaan dan tata bahasa di jejaring social. Hal ini akan membuat mereka semakin sulit membedakan antara berkomunikasi di situs jejaring social dan dunia nyata. Hal ini tentunya akan mempengaruhi keterampilan menulis mereka di sekolah dalam hal ejaan dan tata bahasa.
4.       Situs jejaring social adalah lahan subur bagi predator untuk melakukan kejahatan. Kita tidak akan pernah tahu apakah seseorang yang baru di kenal anak kita di internet, menggunakan jati diri yang sesungguhnya.
5.       Pornografi : Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela. Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen browser melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home page yang dapat di akses. Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal.
6.       Penipuan : Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut.
7.       Carding : Karena sifatnya yang real time (langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit adalah cara yang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka[6].
8.       Perjudian : Dampak lainnya adalah meluasnya perjudian. Dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya.
  
CATATAN APOLOGIA:
Mohon Maaf.
Dalam makalah ini nasih banyak terkacaukan istilah-istilah anak-anak, orang, dan siswa, sejatinya dimaksud pengguna internet/teknologi komunikasi adalah anak usia sekolah.  

  RUJUKAN YANG DIGUNAKAN


Adi Maulana [2012]. Blokir Pornografi, Hidup Sehat Tanpa Pornografi, Nuansa Cendekia Bandung.
Azimah Subagiono [2008]. Pornografi Dilarang Tapi Dicari, Gema Insabi Pers Bandung.
Gerungan W.A.[2001]. Psikologi Sosial, PT Refika Aditama Bandung
Wolak, J., Mitchell K.J., & Finkelhor, D. (2006) Online victimization of youth: Five years later. National Center for Missing & Exploited Children.

WEBB RESOURSE :

  1. Ikhawan Worpress: Dampak Positif dan Negatif Jejaring sosial-
2.      Dampak FB dan Kesehatan:   http://forum.kompas.com/internet/260275-dampak-negatif-facebook-yang-wajib-untuk-anda-ketahui.html

3.      Pengaruh Situs Jejaring Sosial (Facebook, Twitter) Terhadap Para Penggunanya http://forum.kompas.com/computer-corner/28780-pengaruh-situs-jejaring-sosial-facebook-twitter-terhadap-para-penggunanya.html

4.      Remaja dan Pornografi Internet. http://belajarpsikologi.com/remaja-dan-pornografi-internet/         
*)djoko adi walujo: Doctor Business Administration  JOSÈRIZAL UNIVERSITY OF PHILIPPINA.Dosen Universitas Adi Buana Surabaya, salah satu anggota dewan pendidikan propinsi jawa timur, mantan anggota dewan Pembina perpustakaan masjid propinsi jawa timur, mantan wakil ketua PGRI propinsi jawa timur, mantan Gugus Pemikir Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP-PGRI) pusat, sekretaris ISPI- Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia propinsi jawa timur. Pemiliki International Certificated untuk pelatihan guru-guru zone Asia-Pacific.



[1]Dampak FB dan Kesehatan:   http://forum.kompas.com/internet/260275-dampak-negatif-facebook-yang-wajib-untuk-anda-ketahui.html

[2]Pengaruh Situs Jejaring Sosial (Facebook, Twitter) Terhadap Para Penggunanya http://forum.kompas.com/computer-corner/28780-pengaruh-situs-jejaring-sosial-facebook-twitter-terhadap-para-penggunanya.html

[3] Dampak Negatif Facebook: http://forum.kompas.com/internet/260275-dampak-negatif-facebook-yang-wajib-untuk-anda-ketahui.html
[5] Remaja dan Pornografi Internet. http://belajarpsikologi.com/remaja-dan-pornografi-internet/    

ASSESSMENT PENGGUNAAN ALAT-ALAT ANALISIS PENELITIAN TESIS MAHASISWA PASCASARJANA UNIVERSITAS PGRI ADIBUANA SURABAYA




ASSESSMENT PENGGUNAAN ALAT-ALAT ANALISIS PENELITIAN TESIS MAHASISWA PASCASARJANA UNIVERSITAS PGRI ADIBUANA SURABAYA
Peneliti. Drs. Djoko Adi Walujo., ST., MM., DBA
ABSTRACT
This study aims to determine the appropriateness of the level of early elections with the data analysis tools made in writing thesis. Furthermore, this study examine student understanding related to the type of data scale categorical data, which used as the basis for determining the research instruments and analysis. Then also describe the most dominant error of the field error, and trace the cause of the error.
The results showed that (1) the selection of analysis tools less attention to the linkages with the research topic. (2). Choose the analysis tools are not predicted by the level of data needs. (3). Less understood scale variable, so it tends to impose an analytical tool, (4) .Some error correlation between the disclosure of the problems with research problems that reveal the influence of variables between variables. (5) Lack of understanding of the patterns of relationships with instrument selection of research topics, (6). Excessive research instruments, essentially has no effect on the outcome, so it is useless. And (7) Awareness of the importance of test validity and reliability is very high.
KEY WORDS: Analysis Tools, Research Tools, Error Rate,

ABSTRAK
       Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara dini tingkat kesesuaian pemilihan alat analisis dengan data yang dilakukan dalam penulisan Tesis. Selanjutnya penelitian ini mencermati pemahaman mahasiswa terkait dengan jenis data dan katagerorikal skala data, yang digunakan sebagai dasar untuk menetukan Instrumen penelitian serta analisanya. Kemudian juga mendeskripsikan kesalahan yang paling dominan dari antara bidang kesalahan, dan menelusuri penyebab terjadinya kesalahan.
       Hasil penelitian menujukkan, bahwa (1) pemilihan alat analisis kurang memperhatikan keterkaitan dengan topik penelitian.(2).Pemilihan alat analisis tidak diprediksikan dengan tingkat kebutuhan data. (3).Kurang memahami skala variabel, sehingga cenderung memaksakan alat analisis. (4).Terdapat beberapa kerancauan antara pengungkapan problema korelasional dengan problema penelitian yang mengungkap pengaruh variabel antar variabel.
(5) Kurang pemahaman terhadap pola hubungan pemilihan instrumen penelitian dengan topik. (6).Pemilihan instrumen yang berlebihan, yang pada dasarnya tidak memiliki pengaruh pada hasil, sehingga tidak berguna/tidak digunakan. Dan (7) Kesadaran pentingnya uji Validitas dan reliabilitas sangat tinggi.

KATA KUNCI: Alat Analisis, Instrumen Penelitian, Tingkat Kesalahan,

PENDAHULUAN
         Penelitian ilmiah pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Kegiatan penelitian didasarkan pada cirri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis Penelitian harus rasional artinya penelitian ini dengan dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan dalam penelitian dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orange lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sedangkan sistematis adalah proses yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis, ada beberapa langkah yang harus dilakukan peneliti dalam penelitiannya. Kesemua langkah-langkah tersebut harus dilewati oleh peneliti, diantaranya yaitu teknik dalam menganalisis data.(http://skripsimahasiswa.blogspot.com/2010/11/teknik-analisis-data.html). Selanjutnya merujuk pendapat, pada Blog “Genius” tentang Kesalahan Mahasiswa Dalam Melaksanakan Penelitian Untuk Skripsi.
       Kesalahan dalam menggunakan alat-alat statistik, akan memeberikan dampak pada tingkat kesahihan penelitia, hingga hasil penelitian tidak dapat mencerminkan hasil yang sesungguhnya.  Pada hakikatnya statistik adalah alat dalam penelitian, oleh karena itu, harus digunakan secara tepat. Dari berbagai pengalaman empiri selama melaksanakan tugas pembimbingan mahasiswa, didapat varian kesalahan sebagai berikut:
  1. Memilih alat-alat statistik yang tidak tepat atau benar untuk menganalisis proposal.
  2. Mengumpulkan data penelitian, dan kemudian mencoba menemukan teknis statistik yang dapat digunakan dalam analisis.
  3. Hanya menggunakan satu prosedur statistik pada saat justru banyak prosedur yang dapat dipakai untuk menganalisis data. Juga sebaliknya menggunakan berbagai macam alat analisis, yang seharusnya tidak.
  4. Menggunakan asumsi-asumsi statistik pada saat tidak diperlukan.
  5. Terlalu mementingkan perbedaan-perbedaan kecil mengenai signifikansi statistik.
  6. Mahasiswa menghindari analisis korelasi jika standar korelasi momen produk (product-moment) tidak dapat dipakai.
  7. Menggunakan teknik korelasi yang tidak tepat, seperti menggunakan korelasi biserial pada saat seharusnya menggunakan korelasi widespread biserial.
  8. Menggunakan tabel signifikan momen produk untuk menginterpretasi perhitungan bukan korelasi Pearson. Oleh karena korelasi bukan Pearson mempunyai standar kesalahan lebih besar daripada korelasi momen produk, kesalahan ini mengakibatkan estimasi yang berlebihan terhadap estimasi signifikansi dari koefisien yang diinterpretasikan.
  9. Menggunakan koreksi untuk attenuation pada situasi yang kurang tepat untuk menampilkan hasil yang lebih signifikan.
       Realitas yang sering terjadi, ketika tuntutan waktu pembimbingan yang relatif pendek maka dapat menurunkan tingkat kecermatan mahasiswa dalam memilih alat analisis. Hal ini juga diperparah, karena mahasiswa melakukan replikasi terhadap tesis-tesis yang ada, tanpa perlakukan telaah yang mendalam. Sisi lain juga ditengarahi adanya pemaksaan alat analisis karena mahasiswa kurang memahami metodologi penelitian dan statistik.

PEMBAHASAN
Dalam pembahasan akan dikategorikan berdasarkan Tingkat Kesalahan, selanjutnya agar memudahkan dalam pembahasan, akan diuraekan dalam tabel berikut:
  1. Tingkat Kesalahan Analisis berdasar Topik dan Skala Variabel data
  2. Tingkat Kesalahan Penetapan Instrumen Penelitian berdasar Topik dan Data yang akan di jaring.
  3. Tingkat Kesalahan dengan mengabaikan Validitas dan realiabilitas

Tabel 1.
Tingkat Kesalahan Analisis berdasar Topik dan Skala Variabel data
NO
PILIHAN ANALISIS
PILIHAN
SEHARUSNYA
1.
Korelasi Produc Moment
Korelasi Biserial
1
2.
Korelasi Product Momen
Korelasi Sperman Rho
1
3.
Regresi Linier
Anova Dua arah
12
4.
Regresi Ganda
Anova Dua arah
8
5.
Korelasi produk Momen
Regresi Ganda
6
6.
Anova
Regresi Ganda
2
Jumlah
30

menujukkan bahwa terdapat varian analisis yang kurang tepat, dalam hal ini menujukkan bahwa banyak mahasiswa yang kurang memahami skala variabel. Mencermati dari tabel diatas pada baris nomor 1 sebanyak 1 tesis yang memilih analisis product momen, namun data yang didapat bukan berskala Rasio dan Interval, namun yang dipilih korelasi product momen.  Kemudian pada baris no.2. terdapat satu tesis yang memiliki variabel dengan skala  interval dan skala ordinal, namun teknik analisis yang digunakan adalah product momen, seharusnya Spearman Rho.
         Pada baris No.3. terdapat kesalahan  yang dominan, sebanyak 12 tesis menetapkan regresi linier, seharusnya menggunakan anova. Adapun rasional menggunakan Anova karena memenuhi persyaratan yakni membedakan rerata lebih dari dua kelompok data dengan cara membandingkan variansinya. Analisis varian termasuk dalam kategori statistik parametric. Sebagai alat statistika parametric, maka untuk dapat menggunakan rumus ANOVA. Kesalahan ini akan lebih diperparah, karena kesalahan memilih analisis, sekaligus akan melanggar persyaratan uji Anova, yakni, harus terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi meliputi normalitas, heterokedastisitas dan random sampling. Hal ini juga terjadi pada baris no. 4, yang seharusnya menggunakan Anova dua arah, namun dianalisis dengan menggunakan Regresi linier. Sesunggunya regresi ganda digunakan untuk memprediksi dan melihat sumbangan yang diberikan variabel bebas (prediktor) terhadap varibel terikat (variabel kriterium). Kemudian yang terjadi pada baris no. 5 dan  no. 6, sebanya 6 tesis menetapkan analisis product momen, dan sebanyak 2 tesis dianalisis dengan Anova. Realitas yang sebenarnya ditinjau dari topik dan data yang tersedia memenuhi akan mencari korelasi antara kriterium dengan prediktor, lalu menguji apakah korelasi antara kriterium dengan prediktor itu signifikan, serta ingin  menemukan sumbangan relatif antara sesama prediktor.
Catatan : 9 tesis dinyatakan memiliki tingat ketepatan dalam memilih alat analisis.
Tabel 2.
Tingkat Kesalahan Penetapan Instrumen Penelitian
berdasar Topik dan Data yang akan di jaring.
NO
PILIHAN INSTRUMEN PENELITIAN
PILIHAN
SEHARUSNYA
1.
Angket, observasi  dan test, 
Test dan skala sikap 
18
2.
Angket, observasi  dan skala sikap
Test dan Angket
11
3.
Observasi dan Test
Skala Sikap dan Test
2
4.
Observasi dan Angket
Test dan Angket
2
5.
Skala sikap, observasi dan Test
Test dan Angket
6
Jumlah
39

Dari tabel 2. diatas menunjukkan bahwa pemahaman fungsi instrumen penelitian yang digunakan masih terkatagorikan sangat lemah. Secara rinci dapat didiskripsikan sebagai berikut:
Pada baris No. 1 ditunjukkan bahwa sebanyak 18 tesis mahasiswa menggunakan  instrumen, angket, obeservasi dan test. Sedangkan yang dibutuhkan adalah skala sikap dan tes. Sangat tidak relevan ketika judulnya akan mengungkap sikap responden, namun isntrumen yang digunakan adalah angket. Dengan demikian instrumen tyang digunakan tidak mampu untuk mengungkap sikap. Jika hal ini dipaksakan, tidak dapat mengungkapkan permasalahan penelitian yang sesungguhnya.  Pada baris No1 juga dapat diungkap bahwa terdapat kecenderungan berlebihan ketika menggunakan instrumen. Seharusnya permasalahan penelitian dapat diungkap hanya dengan sekala sikap dan test, justru menambah instrumen berupa observasi.
Selanjutnya seperti yang diuungkap pada pada baris No.2.  sebanyak 11 tesis menetapkan istrumen penelitian berupa  Angket, observasi  dan skala sikap, setelah  dikonfirmasikan dengan topik penelitian, yang dibutuhkan untuk mengukur adalah tes dan angket. Dengan demikian dapat disimpulkan jika instrumen yang digunakan tidak dapat mengungkap problema penelitian, dan justru bias. Jika diperhatikan kasus yang terjadi pada baris No. 1 dan baris No.2. menunjukkan bahwa sering terjadi pemilihan dan pemasangan instrumen penelitian yang berlebihan, dan cenderung tidak efisien.
Juga sebagai yang terjadi pada baris No. 3, kebutuhan instrumen yang dibutuhkan adalah skala sikap, namun yang dipilih justru observasi. Dari sisi pengungkapan data sesungguhnya tidak terdapat masalah, sikap dapat diambil dari observasi, namun dari sisi efisiensi waktu akan lebih baik jika menggunakan skala sikap. Observasi juga memilki kelemahan tidak dapat menangkap data dengan varian yang banyak, disamping itu pula, untuk kasus-kasus tertentu standarnya lemah.
Pada kasus baris No. 4,  hampir sama yang terjadi pada kasus baruis No 3, sebanyak 2 tesis menyatakan pilihan instrumen Observasi dan angket, sedangkan kebutuhan rielnya adalah test dan angket.
Kemudian pada kasus No.5. kebutuhan riel untuk mengungkap problem penelitian seharusnya hanya dibutuhkan instrumen penelitian berupa Tes dan Angket, namun yang dipilih adalah Skala sikap, observasi dan Test. Tentunya disamping tidak memenuhi kriteria efisien dan rasionalitas, justru dapat membiaskan hasil-hasil penelitian. 

   
Tabel .3.
Tingkat Kesalahan dengan mengabaikan Validitas dan realiabilitas

PENGGUNAAN RELIABILITAS, DAN VALIDITAS
VALIDITAS
RELIABILITAS.
MENGGUNAKAN
37
37
TIDAK
2
2

      Sebelum mendiskripsikan Tabel 3. perlu diacu beberapa persyaratan yang harus dipenuhi terkait dengan pentingnya validitas dan reliabelitas.
Dalam penelitian ilmiah dipersyaratkan untyuk melakukan vaidasui terhadap instrumen yang digunakan. Perlu juga dipahami bahwa instrumen yang tidak melalui uji validitas dan realibalitas dapat dipastikan hasuil penelitiannya dianngap sumir dan tidak memenuhi kriteria ilmiah. Melalui tahapan validasi, memungkinkan penelitian akan lebih efisien, karena  analisisi data tepat sasaran, baik substansi, maupun sasaran kesesuaian responden. Dismping itu pula validasi dapat difungsikan untuk mengembangkan alat ukur yang kekinian.
Pada. Tabel. 3. menunjukan hanya sebagian kecil dari tesis yang tidak melakukan uji validitas dan reliabilitas. Dari sebanyak 39 tesis, terdap dua tesis yang tidak melakukan ujia validitas dan reliabilitas. Kedua tesis tersebut mengadosi instrumen yang telah terstandar, namun dalam uraian tidak menyertakan keterangan bahwa  isntrumen yanfg dipakai telah melalui validasi.
SIMPULAN
Berdasar pada pembahasan data terungkap berbagai varian kesalahan, mulai penetapaan teknik analisis, pemilihan instrumen serta tingkat pemahaman pentingnya uji validitas dan reliabilitas, dapat didiskripsikan sebagai berikut.
a.       Dari analisis isi tergambarkan bahwa pemilihan alat analisis kurang memperhatikan keterkaitan dengan topik penelitian.
b.      Pemilihan alat analisis tidak diprediksikan dengan tingkat kebutuhan data.
c.       Kurang memahami skala variabel, sehingga cenderung memaksakan alat analisis
d.      Terdapat beberapa kerancauan antara pengungkapan problema korelasional dengan problema penelitian yang mengungkap pengaruh variabel antar variable.
e.       Kurang pemahaman terhadap pola hubungan pemilihan isntrumen penelitian dengan topik
f.       Pemilihan instrumen yang berlebihan, yang pada dasarnya tidak memiliki pengaruh pada hasil, sehingga tidak berguna/tidak digunakan
g.      Kesadaran pentingnya uji Validitas dan reliabilitas sangat tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad kurnia, SPd,MM. http://skripsimahasiswa.blogspot.com/2010/11/teknik-analisis-data.html
Bandi, Kesalahan-kesalahan dalam proposal dan Pelaporan hasil riset dan tugas akhir Yang harus dihindari.  http://bandi.staff.fe.uns.ac.id/files/2009/08/2010-6-peb-d3-ak.pdf
Best, John W. 1982. Research in Education . India, Prentice Hall.
Corder, S.P. (1981). Error Analysis and Interlanguage Oxford: Oxford University Press
Efendi, S. dan C. Manning. 1993. Prinsip-Prinsip Analisa Data Metode Penelitian Survey, Jakarta: LP3ES
Ericson, B.H & Nosanchuk, T.A. C.1981. Memahami Data : Statistik Untuk Ilmu Sosial.
Jakarta: LP3ES.
Erna Febru Aries S. | 8 Februari 2008 http://ardhana12.wordpress.com/2008/02/08/teknik-analisis-data-dalam-penelitian/Fitzgerald, Jill. 1987. Research on Revision in Writing. Oxford: Blackwell.
Gibbons, J.D. 1975. Non Para Metric Method for  Quantitative Analysis , University of Alabama.
Hatch, E. and Faradhy, H. 1982. Research Design and Statistics for  Apllied Linguistics.
 Rowley: Newbury House Publishers, Inc.
Lexy J. Moleong. 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remadja Karya
Mansoer Pateda, 1989, Sematika Klasikal, Bandung: Rineka Cipta.
Nawawi, H Hadari dan Mimi Martini, , 1999. Penelitian terapan, Pustaka Utama, Jakarta
 BPFE.
Phophan, W. James Sirotnik, Kenneth. C.1973. Educational Statistics “Use and
 Interpretation”. New York: Harper & Row Publishers, Inc.
Soebakri. 1992. Statistik Terapan. Surabaya: FBS-IKIP
Sutrisno, Hadi. 1994. Statistik I, II, III, IV. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM